Orang yang mengakui kegagalannya lebih mudah bangkit menuju keberhasilan baru. Bandingkan dengan orang yang mengakui kebodohannya. Ia pun cenderung bersedia menerima pengetahuan baru, sehingga menjadi lebih pintar. Persis seperti orang yang mengakui kekurangan dirinya, sehingga berusaha menyempurnakan diri.

Sebaliknya, orang yang mengira dirinya ‘sempurna’ (selalu berada dalam keadaan baik-baik saja) cenderung menyangkal kegagalan. Katanya: “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda… Aku tidak menganggap putusnya hubungan cinta sebagai kegagalan… Putus hubungan cinta itu soal kecil…”

Namun, you know, tidak semua harapan bisa kita capai. Sebab itu, lebih baik kita mengakui kegagalan yang telah lalu, di samping mengakui masih terbukanya peluang kesuksesan lain di masa depan.

Daripada mengucap kata-kata penyangkal kegagalan, lebih elok kita kemukakan ungkapan-ungkapan yang bernada menerima kegagalan. Umpamanya: “Kegagalan adalah pelajaran menuju kesuksesan… Kita menganggap putusnya hubungan cinta yang lalu sebagai pelajaran menuju terjalinnya hubungan cinta lain yang lebih indah… Dari kegagalan yang lalu, kita bisa belajar, sehingga di waktu mendatang kita lebih sukses…”

Ataukah Anda malu mengakui kegagalan? Mudah-mudahan tidak. Kegagalan adalah sesuatu yang manusiawi. Mengapa mesti malu?

Kegagalan, kekalahan, dan berbagai jenis ketidak-sempurnaan lainnya bukanlah sesuatu yang memalukan. Kalau Anda membaca berita olahraga semacam “Kesebelasan A dipermalukan kesebelasan B”, dalam arti A dikalahkan B, waspadalah. Berita semacam itu menyesatkan. Sebab, dikalahkan itu bukan berarti dibuat malu oleh lawan yang mengalahkan. (Lihat Bab 3, pasal “Sikap Menyerah Yang Terhormat”.) Yang memalukan adalah bermain curang atau licik, sekalipun menghasilkan kesuksesan dan kejayaan.

Karena kegagalan itu tidak memalukan, marilah kita menerimanya dengan kepala tegak. Ayolah kita terima saran dari Charles W. McCoy Jr., yang dia sampaikan di bukunya, Why Didn’t I Think of That:

Kita harus bersedia menerima kegagalan … sebagai peluang untuk belajar, berkembang, memperbaiki diri, membuat permulaan baru, dan bahkan mengakhiri keterpurukan dan sikap menyerah [total] kita.

One Response to “4 – Terima Kegagalan sebagai Peluang Belajar”


  1. [...] seru Iwan. “Membaca buku bermutu lebih asyik ketimbang tidur-tiduran melulu. Dari sini aku dapat mulai membangun masa [...]


Leave a Reply