Sejak tahun 1997 hingga kini (2008), kehidupan di Indonesia cenderung menyesakkan dada. Nilai rupiah merosot drastis, harga-harga membubung tinggi. Daya beli masyarakat pun kian lama kian menurun. Satu per satu usaha di berbagai sektor berguguran. Ini sebabnya, pengangguran merajalela hingga mencapai angka puluhan juta orang.

Angka sebesar itu menggambarkan betapa lesunya keadaan perekonomian nasional. Sungguh ‘gelombang dahsyat setinggi gunung’ yang dapat ‘menenggelamkan’ kita.

Bagaimana tidak? Kita semua merasakan krisis ekonomi yang parah dan berkepanjangan. Dari petani sampai pedagang. Dari buruh sampai pengusaha. Pria mengalami, wanita tak terkecuali. Kaum tua yang tadinya stabil keuangannya pun kini mulai kedodoran, lebih-lebih kaum muda yang belum mapan. Pejabat yang kaya-raya merasakan kelesuan, apalagi rakyat yang terjerat di bawah garis kemiskinan.

Read the rest of this entry »

Hidup memang sulit. Sebab, “manusia diciptakan [dengan kodrat] lemah” (QS an-Nisa’ [4]: 28). Bukan hanya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan krisis keuangan yang bisa menghempaskan kita dari puncak gunung ke dasar lembah. Saat hubungan cinta terputus, seperti Majnun yang ditinggal mati kekasihnya, ini pun menyulitkan. Bila terkurung di dalam kota yang sedang dikepung pasukan musuh, seperti kaum muslimin di Madinah pada tahun 5 Hijriyah, itu pun sulit sekali.

Dapatkah Anda merasakan sesulit apakah kaum muslimin ketika itu? Bayangkan! Mereka terkurung oleh pengepungan pasukan sekutu (Quraisy dan beberapa kabilah lain) sejumlah empat kali lipat lebih banyak daripada mereka. Sampai dua minggu, belum tampak tanda-tanda kapan berakhirnya masa sulit ini.

Padahal, selama masa sulit tersebut, kaum muslimin yang terisolir di dalam kota itu menderita kelaparan dan kedinginan. Dari hari ke hari kian memprihatinkan.

Repotnya lagi, bahaya mengintai di mana-mana. Setiap keluar rumah untuk mencari makanan dan penghangat tubuh atau pun keperluan lain, ribuan anak panah siap menghujani mereka. Hujan panah datang dari segala penjuru: atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang. Penglihatan mereka sampai kacau-balau. Hati mereka pun “menyesak sampai ke tenggorokan”, sampai-sampai “menyangka yang bukan-bukan tentang Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 10)

Read the rest of this entry »

Ketika kita masih mendengkur sejak bedug magrib bertalu-talu hingga kokok ayam bersahut-sahutan, bulan tidak tidur. Dia terus menari berputar mengelilingi bumi… Ketika kita masih berselimut rapat dari ujung rambut ke ujung kaki, bumi tidak berbaring di atas ranjang. Dia terus berlari memutari matahari… Itu di luar sana.

Di dalam sini, jantung orang tidur yang berdegup lemah masih memompakan darah. Mengalir segar berirama ke seluruh tubuh. Dari pembuluh ke pembuluh. Lalu kembali ke bilik pemompa. Terus mengalir berirama… Di dalam sini, sementara sekujur tubuh terus mendengkur, otot-otot di balik kulit tak kuat tidur. Kewalahan mengiringi irama aliran darah. Maka gerombolan otot pun mengeluhlah, “Hai Otak! Kami capek, nih. Pegel-pegel. Suruh, dong, si tubuh bangkit.”

Read the rest of this entry »