Orang yang mengakui kegagalannya lebih mudah bangkit menuju keberhasilan baru. Bandingkan dengan orang yang mengakui kebodohannya. Ia pun cenderung bersedia menerima pengetahuan baru, sehingga menjadi lebih pintar. Persis seperti orang yang mengakui kekurangan dirinya, sehingga berusaha menyempurnakan diri.

Sebaliknya, orang yang mengira dirinya ‘sempurna’ (selalu berada dalam keadaan baik-baik saja) cenderung menyangkal kegagalan. Katanya: “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda… Aku tidak menganggap putusnya hubungan cinta sebagai kegagalan… Putus hubungan cinta itu soal kecil…”

Namun, you know, tidak semua harapan bisa kita capai. Sebab itu, lebih baik kita mengakui kegagalan yang telah lalu, di samping mengakui masih terbukanya peluang kesuksesan lain di masa depan.

Read the rest of this entry »

Apa sajakah yang Anda rasakan ketika kehilangan sesuatu yang Anda anggap berharga, entah itu pekerjaan entah orang yang Anda kasihi? Mungkin, yang Anda rasakan lebih dari sekedar kehilangan atas pekerjaan atau orang yang Anda kasihi itu. Boleh jadi, Anda pun kehilangan rasa percaya-diri, jaminan tidak kesepian, jaminan finansial, impian masa depan, dan masih banyak lagi.

Menumpuknya rasa kehilangan tersebut tentu berdampak besar. Bagai terlanda gempa, badai, dan banjir dalam waktu bersamaan. Satu bencana saja sudah menyulitkan, apalagi beberapa musibah sekaligus. Wajarlah apabila jiwa Anda terguncang.

Read the rest of this entry »

Apa yang kita lakukan ketika merasakan kekecewaan yang mendalam? Marilah kita introspeksi, memeriksa diri sendiri.

Membenturkan kepala ke dinding? Kasihan dindingnya. Hehehe…

Mengobrak-abrik segala barang? Membanting piring, gelas, atau barang pecah-belah lainnya? Kasihan ruangannya, barangnya, lantainya… Hehehe juga.

Menganiaya makhluk lain yang tak berdaya? Aduuuh… Apakah kita mau demo unjuk kekuatan?

Bila mau unjuk kekuatan, tunjukkan kemampuan menaklukkan hawa-nafsu! Ini baru betul-betul perkasa.

Kalau cuma mengalahkan dinding, barang pecah-belah, dan makhluk lain yang tak berdaya, itu sih keciiil. Anak kecil pun mampu melakukannya.

Read the rest of this entry »

Sebagian orang, kendati religius, ternyata kurang mampu menenangkan gejolak jiwa kita. Mereka malah merasa terganggu bila kita ungkapkan emosi negatif yang kita rasakan. Telinga mereka tertutup rapat-rapat. Mereka justru membuka mulut lebar-lebar dengan menggurui bagaimana seharusnya perasaan kita, apa yang harus kita perbuat, dan bagaimana melakukannya. Mereka mengabaikan terlukanya perasaan kita.

Kalau kita curhat kepada para pengabai perasaan itu, bisa-bisa jiwa kita yang sedang terluka malah menjadi semakin lemah. Ibaratnya, otot kaki telah terkilir dan belum terobati kok malah disuruh berlari terus mendaki gunung dan dilarang berhenti sebelum sampai di puncak. Makin parah, bukan?

Supaya luka hati kita menjadi sembuh dan tidak makin parah, lebih baik kita curhat kepada para pemerhati perasaan. Mereka ialah orang-orang yang memperhatikan perasaan kita, memaklumi luka hati, membuka telinga lebar-lebar guna mendengar keluh-kesah kita, menyayangi kita, menerima kita apa adanya, dan tidak menghakimi kita.

Read the rest of this entry »

Untuk bersikap dan berperilaku ceria, tidak usah menunggu bahagia. “Perilaku dan perasaan itu berjalan seiring.” Demikian keterangan dari William James, sang filsuf pragmatis. Maksudnya, sebagaimana rasa bahagia membangkitkan keceriaan, perilaku ceria pun menghasilkan kebahagiaan.

Mengapa begitu? Sebab, sewaktu kita bersikap ceria, kata Peter Doskoch di majalah Psychology Today, otak kita menghasilkan zat endorfin yang merupakan penangkal rasa sakit alami. Selain itu, turunlah denyut jantung dan tekanan darah. Bila sudah begini, jiwa yang terluka berat pun dapat dipulihkan dengan lebih lancar. Ini sebabnya, perilaku ceria menghasilkan kebahagiaan.

Ayo! Ceria, dong! Mau bahagia, ‘kan? Tunggu apa lagi?

Read the rest of this entry »