Pada tanggal 6 Juni 1973, John Prunty bersama dengan lima orang pekerja konstruksi lainnya bekerja di atas atap sebuah rumah. Hari sedang panas dan gerah, sedangkan pekerjaannya memang sukar.

Saat berada di puncak atap, seorang rekannya memintanya membantu mengambilkan suatu perkakas. Dalam usahanya mengambil perkakas tersebut, John melangkah ke depan. Namun, sebatang balok penyangga tubuhnya tiba-tiba terlepas jatuh. Ia pun kehilangan keseimbangan.

Read the rest of this entry »

Nabi Muhammad bersabda: “Aku masuk ke dalam surga, lalu aku mendengar suara langkah orang berjalan [di dalam surga]. Aku bertanya [kepada para malaikat], ‘Siapa itu?’ Mereka menjawab, ‘Dialah si penangis, putri Milhan.’” (HR Muslim)

Mengapa putri Milhan itu akan berada di surga, sedangkan dia gampang menangis? Apakah dia, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ummu Sulaim, manusia tegar yang layak masuk surga?

Read the rest of this entry »

Ponirah lahir pada tahun 1949, masa yang paling sulit dalam sejarah Republik Indonesia. Ia terlahir dari keluarga miskin. Jadinya, kehidupannya pada masa kanak-kanak itu sulit bin berat.

Masa kecilnya dilaluinya dengan sungguh amat sangat sederhana sekali. Sebagaimana hampir semua wong cilik pada masa itu, ia tidak pernah mengenal buku, pensil, apalagi bangku sekolah.

Dengan kesederhanaannya pula, Ponirah menutup lembaran masa lajangnya pada usia muda. Ia menikah dengan Suparjo, seorang buruh penggarap sawah lelaki pilihan orangtuanya. Konon, maksudnya, untuk meringankan beban orangtuanya.

Lenyapkah beban kesulitan hidup dengan pernikahan itu? Tidak. Sebagian beban kesulitan hidup orangtua Ponirah berpindah ke pundak Ponirah dan suaminya.

Read the rest of this entry »

Lahir pada tahun 1941 di Ottawa, sebuah kota besar di Kanada, Paul tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan dinamis. Selama masa awal 1950-an, nama Anka cukup populer di kota ini. Ia menjadi wartawan muda. Kemampuan menulisnya mencuri banyak perhatian. Namun, minatnya di dunia jurnalistik hanya sebentar. Ia beralih ke bidang lain yang lebih menarik perhatian remaja pada umumnya.

Dunia musik populer adalah impian Paul Anka sejak itu. Ia pun belajar bernyanyi dan memainkan piano, trompet, dan drum. Ia belajar dengan giat. “Aku seperti pecandu. Dan memang yang kuinginkan sejak kecil hanyalah menjadi seorang penyanyi. Tapi semua orang [di dekatku] menganggap aku gila,” ungkapnya.

Read the rest of this entry »