<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Tasawuf Cinta &#187; rangkuman buku Bersalatlah</title>
	<atom:link href="http://bersalatlah.wordpress.com/category/rangkuman-buku-bersalatlah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bersalatlah.wordpress.com</link>
	<description>dengan cinta, mengakrabi Allah SWT sedekat-dekatnya</description>
	<lastBuildDate>Thu, 04 Jun 2009 20:24:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bersalatlah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/22d7f074f4467933e098ee8986e41ccc?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Tasawuf Cinta &#187; rangkuman buku Bersalatlah</title>
		<link>http://bersalatlah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bersalatlah.wordpress.com/osd.xml" title="Tasawuf Cinta" />
		<item>
		<title>1 &#8211; Selamat Datang, Badai Kehidupan!</title>
		<link>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/28/1-selamat-datang-badai-kehidupan/</link>
		<comments>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/28/1-selamat-datang-badai-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 02:37:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[1 - Menyambut Badai di Masa Sulit]]></category>
		<category><![CDATA[rangkuman buku Bersalatlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bersalatlah.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Sejak tahun 1997 hingga kini (2008), kehidupan di Indonesia cenderung menyesakkan dada. Nilai rupiah merosot drastis, harga-harga membubung tinggi. Daya beli masyarakat pun kian lama kian menurun. Satu per satu usaha di berbagai sektor berguguran. Ini sebabnya, pengangguran merajalela hingga mencapai angka puluhan juta orang.
Angka sebesar itu menggambarkan betapa lesunya keadaan perekonomian nasional. Sungguh ‘gelombang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=21&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sejak tahun 1997 hingga kini (2008), kehidupan di Indonesia cenderung menyesakkan dada. Nilai rupiah merosot drastis, harga-harga membubung tinggi. Daya beli masyarakat pun kian lama kian menurun. Satu per satu usaha di berbagai sektor berguguran. Ini sebabnya, pengangguran merajalela hingga mencapai angka puluhan juta orang.</p>
<p>Angka sebesar itu menggambarkan betapa lesunya keadaan perekonomian nasional. Sungguh ‘gelombang dahsyat setinggi gunung’ yang dapat ‘menenggelamkan’ kita.</p>
<p>Bagaimana tidak? Kita semua merasakan krisis ekonomi yang parah dan berkepanjangan. Dari petani sampai pedagang. Dari buruh sampai pengusaha. Pria mengalami, wanita tak terkecuali. Kaum tua yang tadinya stabil keuangannya pun kini mulai kedodoran, lebih-lebih kaum muda yang belum mapan. Pejabat yang kaya-raya merasakan kelesuan, apalagi rakyat yang terjerat di bawah garis kemiskinan.</p>
<p><span id="more-21"></span>Saat Anda baca artikel ini, mungkin perekonomian nasional sudah mulai bangkit. Namun, pada tingkat perorangan, krisis ekonomi masih bisa menimpa kita sewaktu-waktu. Jadi, kita tetap perlu mewaspadai masa sulit yang menimpa diri sendiri.</p>
<p>Lebih-lebih, masa sulit yang dapat menimpa perorangan pun bukan hanya krisis ekonomi. Bentuknya beraneka macam. ‘Gelombang maut’ ini bisa kita daftar sebanyak-banyaknya. Di antaranya: terjangkit virus HIV penyebab sindrom penyakit AIDS; dijebloskan ke dalam penjara berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun; bekerja tetapi hasilnya tak seberapa, hingga kebutuhan hidup sehari-hari kurang terpenuhi; dan lain-lain.</p>
<p>Apakah sekarang Anda merasa menghadapi gelombang maut? Berada dalam masa sulit? Tenanglah. Mari kita sambut <a href="http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/25/2-pedihnya-terhempas-badai-di-masa-sulit/">krisis ekonomi dan segala krisis lainnya</a>. Ayo gerakkan bibir, ucapkan kata-kata sambutan berikut ini.</p>
<blockquote><p><span style="color:#ff6600;">Selamat datang, wahai Badai Kehidupan! Mungkin tak ada yang dapat kami perbuat untuk menyurutkan gelombangmu yang setinggi Himalaya. Tapi, kami sanggup menumpang ‘bahtera penyelamat’, mengikuti jejak para pengikut Nabi Nuh, sampai badai berlalu.</span></p></blockquote>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bersalatlah.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bersalatlah.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bersalatlah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bersalatlah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bersalatlah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bersalatlah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bersalatlah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bersalatlah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bersalatlah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bersalatlah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bersalatlah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bersalatlah.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=21&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/28/1-selamat-datang-badai-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c56cfd65b24a709859aa6ee1d184107?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Shodiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>2 &#8211; Pedihnya Terhempas Badai di Masa Sulit</title>
		<link>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/25/2-pedihnya-terhempas-badai-di-masa-sulit/</link>
		<comments>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/25/2-pedihnya-terhempas-badai-di-masa-sulit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 02:36:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[1 - Menyambut Badai di Masa Sulit]]></category>
		<category><![CDATA[rangkuman buku Bersalatlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/25/2-pedihnya-terhempas-badai-di-masa-sulit/</guid>
		<description><![CDATA[Hidup memang sulit. Sebab, &#8220;manusia diciptakan [dengan kodrat] lemah&#8221; (QS an-Nisa’ [4]: 28). Bukan hanya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan krisis keuangan yang bisa menghempaskan kita dari puncak gunung ke dasar lembah. Saat hubungan cinta terputus, seperti Majnun yang ditinggal mati kekasihnya, ini pun menyulitkan. Bila terkurung di dalam kota yang sedang dikepung pasukan musuh, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=20&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hidup memang sulit. Sebab, &#8220;manusia diciptakan [dengan kodrat] lemah&#8221; (QS an-Nisa’ [4]: 28). Bukan hanya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan krisis keuangan yang bisa menghempaskan kita dari puncak gunung ke dasar lembah. Saat hubungan cinta terputus, seperti Majnun yang ditinggal mati kekasihnya, ini pun menyulitkan. Bila terkurung di dalam kota yang sedang dikepung pasukan musuh, seperti kaum muslimin di Madinah pada tahun 5 Hijriyah, itu pun sulit sekali.</p>
<p>Dapatkah Anda merasakan sesulit apakah kaum muslimin ketika itu? Bayangkan! Mereka terkurung oleh pengepungan pasukan sekutu (Quraisy dan beberapa kabilah lain) sejumlah empat kali lipat lebih banyak daripada mereka. Sampai dua minggu, belum tampak tanda-tanda kapan berakhirnya masa sulit ini.</p>
<p>Padahal, selama masa sulit tersebut, kaum muslimin yang terisolir di dalam kota itu menderita kelaparan dan kedinginan. Dari hari ke hari kian memprihatinkan.</p>
<p>Repotnya lagi, bahaya mengintai di mana-mana. Setiap keluar rumah untuk mencari makanan dan penghangat tubuh atau pun keperluan lain, ribuan anak panah siap menghujani mereka. Hujan panah datang dari segala penjuru: atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang. Penglihatan mereka sampai kacau-balau. Hati mereka pun “menyesak sampai ke tenggorokan”, sampai-sampai “menyangka yang bukan-bukan tentang Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 10)</p>
<p><span id="more-20"></span>Mengapa Allah menjadikan banyak orang, hamba-hamba-Nya, mengalami masa sulit sampai kepayahan? Menderita sesak dada sampai ke tenggorokan? Bukankah Dia Maha Pengasih? Maha Penyayang? Ternyata, penderitaan itu adalah jalan menuju kejayaan.</p>
<p>Contohnya: Tanah sawah diluku lebih dulu dengan bajak yang tajam. Setelah itu, barulah tumbuh subur tanaman padi. Selepas emas dibakar, barulah menjadi gelang, kalung, dan aneka perhiasan indah lainnya. Seusai pil kina yang amat pahit diminum, barulah sembuh penyakit malaria. Tubuh kita perlu disuntik berbagai vaksin (bibit penyakit yang sudah dilemahkan), sehingga tubuh kita terbiasa melawan bibit penyakit. Sesudah itu, barulah kita selamat dari penyakit-penyakit tersebut untuk selama-lamanya.</p>
<p>Begitu pula keadaan kaum muslimin di Madinah pada tahun 5 Hijriyah. Selama hampir satu bulan, mereka terkurung dalam pengepungan pasukan sekutu yang berkekuatan empat kali lipat. Sehabis menanggung penderitaan ini, harumlah nama kaum muslimin ke seantero jazirah Arabia. Lalu, berbondong-bondonglah orang dari segenap penjuru mengucap syahadat, memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad. Hanya dalam waktu beberapa tahun saja sejak berakhirnya pengepungan tersebut, Islam sudah berjaya di seluruh jazirah Arabia.</p>
<p>Kita pun dapat pula berjaya, selepas dari empasan badai di masa sulit. Namun, tentu saja, tidak semua kepedihan yang kita derita menghasilkan kejayaan.</p>
<p>Bila di masa sulit ini kita menyerah total, maka mustahil kita berjaya. Kesuksesan pun bakal menjauhi kita jika kita ‘lari dari masa sulit’. Bagaimana mungkin rezeki menghujani kita dari langit apabila kita bertopang dagu atau tidur melulu.</p>
<p>Agar kita berjaya memanen padi, misalnya, maka belum cukuplah meluku tanah kita dengan bajak tajam. Seusai pembajakan, haruslah kita tanami lahan ini dengan bibit padi. Lalu, kita memupuki dan mengairinya. Begitu pula jika kita memang ingin ‘bertabur perhiasan emas’.</p>
<p><span style="color:#ff6600;">Supaya berjaya, maka unsur ‘emas’ pada diri kita yang sudah ditempa oleh penderitaan di masa sulit ini haruslah kita proses lebih lanjut.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bersalatlah.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bersalatlah.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bersalatlah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bersalatlah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bersalatlah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bersalatlah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bersalatlah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bersalatlah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bersalatlah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bersalatlah.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bersalatlah.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bersalatlah.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=20&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/25/2-pedihnya-terhempas-badai-di-masa-sulit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c56cfd65b24a709859aa6ee1d184107?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Shodiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>3 &#8211; Selamat Tinggal, Angan-Angan Hampa!</title>
		<link>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/23/3-selamat-tinggal-angan-angan-hampa/</link>
		<comments>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/23/3-selamat-tinggal-angan-angan-hampa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 02:34:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[1 - Menyambut Badai di Masa Sulit]]></category>
		<category><![CDATA[rangkuman buku Bersalatlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/23/3-selamat-tinggal-angan-angan-hampa/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita masih mendengkur sejak bedug magrib bertalu-talu hingga kokok ayam bersahut-sahutan, bulan tidak tidur. Dia terus menari berputar mengelilingi bumi&#8230; Ketika kita masih berselimut rapat dari ujung rambut ke ujung kaki, bumi tidak berbaring di atas ranjang. Dia terus berlari memutari matahari&#8230; Itu di luar sana.
Di dalam sini, jantung orang tidur yang berdegup lemah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=19&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ketika kita masih mendengkur sejak bedug magrib bertalu-talu hingga kokok ayam bersahut-sahutan, bulan tidak tidur. Dia terus menari berputar mengelilingi bumi&#8230; Ketika kita masih berselimut rapat dari ujung rambut ke ujung kaki, bumi tidak berbaring di atas ranjang. Dia terus berlari memutari matahari&#8230; Itu di luar sana.</p>
<p>Di dalam sini, jantung orang tidur yang berdegup lemah masih memompakan darah. Mengalir segar berirama ke seluruh tubuh. Dari pembuluh ke pembuluh. Lalu kembali ke bilik pemompa. Terus mengalir berirama&#8230; Di dalam sini, sementara sekujur tubuh terus mendengkur, otot-otot di balik kulit tak kuat tidur. Kewalahan mengiringi irama aliran darah. Maka gerombolan otot pun mengeluhlah, “Hai Otak! Kami capek, nih. Pegel-pegel. Suruh, dong, si tubuh bangkit.”</p>
<p><span id="more-19"></span>Untuk contoh, mari kita simak kisah Iwan Patriawan (bukan nama sebenarnya). Seusai terkena PHK, ia tampak tidur terus-terusan.</p>
<p>Setelah letih tidur melulu, otak Iwan Patriawan menerima keluh-kesah dari gerombolan ototnya. “Capek, nih.” Lalu keluhan ini disampaikan si otak ke seluruh tubuh, “Bangun! Ayo bangun!” Maka bangkitlah badan Iwan dari atas ranjang setelah sebulan berbaring terus-terusan.</p>
<p>Karena masih ogah-ogahan, iseng-iseng Iwan mencomot sejilid buku dari almari. Rupanya, novel pertama Dewi “Dee” Lestari, <i>Supernova</i>. Lalu Iwan beranjak ke kamar sebelah. Duduk manis di kursi panjang.</p>
<p>Iwan membuka-buka <i>Supernova</i> lembar demi lembar. Asal-asalan. Sampai di satu halaman, terpakulah mata Iwan pada satu keping perasaan Dee. Kebetulan, keping nomor 7, “Bintang Jatuh”.</p>
<p>“Akankah,” pikir Iwan, “bintang jatuh di depanku, lalu impianku jadi kenyataan?” Dengan pikiran ini, disematkannya keping nomor 7 itu ke hatinya:</p>
<blockquote><p>Radio RRI—berita—harga sayur-mayur.<br />
Cabe keriting merangkak naik. Disusul merosotnya bawang merah. Kentang meluncur drastis. Kol membanjiri pasar. Terung menjadi primadona. Jahe dengan stabil berjalan meniti tali harga.<br />
Sirkus komoditas.<br />
Padahal, di dalam tanah sana, semua berjalan tanpa gejolak yang dibuat-buat. Tomat tak pernah keberatan buahnya dihuni ulat, juga tak berbuat apa-apa bila dilekati pestisida. Ia rela mati, untuk hidup kembali. Sementara petani bertahan mati-matian untuk hidup.</p></blockquote>
<p>Gdubrak! Iwan merasa disentil. “Astaghfirullah,” serunya dalam hati. “Mereka terus bertahan mati-matian untuk hidup. Sedangkan aku, asal-asalan hidup untuk menunggu kedatangan sang ajal. Hidup untuk mati. Terbalik, dong. Harusnya, mati untuk hidup. Tapi, selama ini, aku tidur-tiduran melulu. Kemampuanku untuk bangun dan bergerak-gerik malah kugunakan untuk menjatuhkan diri di atas ranjang. Bangun untuk jatuh. Terbalik, dong. Harusnya, jatuh untuk bangun.”</p>
<p>Apa maksudnya? <i>Kok</i> ruwet begitu, <i>sih</i>? Jadinya, kami sukar memahaminya. Untungnya, Iwan kemudian menjelaskan:</p>
<p>“<span style="color:#ff6600;">Kita kelak mati adalah untuk menjalani hidup yang hakiki di akhirat. Sekarang, kita jatuh terpuruk di masa kini adalah untuk membangun surga di masa depan. Surga dunia-akhirat!</span>”</p>
<p>Ooo&#8230; membangun masa depan. Dari mana mulainya, ya?</p>
<p>“O, my God,” seru Iwan. “Membaca buku bermutu lebih asyik ketimbang tidur-tiduran melulu. Dari sini aku dapat <a href="http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/21/4-terima-kegagalan-sebagai-peluang-belajar/">mulai membangun</a> masa depan.”</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bersalatlah.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bersalatlah.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bersalatlah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bersalatlah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bersalatlah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bersalatlah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bersalatlah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bersalatlah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bersalatlah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bersalatlah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bersalatlah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bersalatlah.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=19&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/23/3-selamat-tinggal-angan-angan-hampa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c56cfd65b24a709859aa6ee1d184107?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Shodiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>4 &#8211; Terima Kegagalan sebagai Peluang Belajar</title>
		<link>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/21/4-terima-kegagalan-sebagai-peluang-belajar/</link>
		<comments>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/21/4-terima-kegagalan-sebagai-peluang-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2008 02:32:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[2 - Pulihkan Jiwa Yang Terluka]]></category>
		<category><![CDATA[rangkuman buku Bersalatlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/21/4-terima-kegagalan-sebagai-peluang-belajar/</guid>
		<description><![CDATA[Orang yang mengakui kegagalannya lebih mudah bangkit menuju keberhasilan baru. Bandingkan dengan orang yang mengakui kebodohannya. Ia pun cenderung bersedia menerima pengetahuan baru, sehingga menjadi lebih pintar. Persis seperti orang yang mengakui kekurangan dirinya, sehingga berusaha menyempurnakan diri.
Sebaliknya, orang yang mengira dirinya ‘sempurna’ (selalu berada dalam keadaan baik-baik saja) cenderung menyangkal kegagalan. Katanya: “Kegagalan adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=18&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Orang yang mengakui kegagalannya lebih mudah bangkit menuju keberhasilan baru. Bandingkan dengan orang yang mengakui kebodohannya. Ia pun cenderung bersedia menerima pengetahuan baru, sehingga menjadi lebih pintar. Persis seperti orang yang mengakui kekurangan dirinya, sehingga berusaha menyempurnakan diri.</p>
<p>Sebaliknya, orang yang mengira dirinya ‘sempurna’ (selalu berada dalam keadaan baik-baik saja) cenderung menyangkal kegagalan. Katanya: “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda&#8230; Aku tidak menganggap putusnya hubungan cinta sebagai kegagalan&#8230; Putus hubungan cinta itu soal kecil&#8230;”</p>
<p>Namun, <i>you know</i>, tidak semua harapan bisa kita capai. Sebab itu, lebih baik kita mengakui kegagalan yang telah lalu, di samping mengakui masih terbukanya peluang kesuksesan lain di masa depan.</p>
<p><span id="more-18"></span>Daripada mengucap kata-kata penyangkal kegagalan, lebih elok kita kemukakan ungkapan-ungkapan yang bernada menerima kegagalan. Umpamanya: “<b>Kegagalan adalah pelajaran menuju kesuksesan</b>&#8230; Kita menganggap putusnya hubungan cinta yang lalu sebagai pelajaran menuju terjalinnya hubungan cinta lain yang lebih indah&#8230; Dari kegagalan yang lalu, kita bisa belajar, sehingga di waktu mendatang kita lebih sukses&#8230;”</p>
<p>Ataukah Anda malu mengakui kegagalan? Mudah-mudahan tidak. Kegagalan adalah sesuatu yang manusiawi. Mengapa mesti malu?</p>
<p>Kegagalan, kekalahan, dan berbagai jenis ketidak-sempurnaan lainnya bukanlah sesuatu yang memalukan. Kalau Anda membaca berita olahraga semacam “Kesebelasan A dipermalukan kesebelasan B”, dalam arti A dikalahkan B, waspadalah. Berita semacam itu menyesatkan. Sebab, dikalahkan itu bukan berarti dibuat malu oleh lawan yang mengalahkan. (Lihat Bab 3, pasal “Sikap Menyerah Yang Terhormat”.) Yang memalukan adalah bermain curang atau licik, sekalipun menghasilkan kesuksesan dan kejayaan.</p>
<p>Karena kegagalan itu <i>tidak</i> memalukan, marilah kita menerimanya dengan kepala tegak. Ayolah kita terima saran dari Charles W. McCoy Jr., yang dia sampaikan di bukunya, <i>Why Didn’t I Think of That</i>:</p>
<blockquote><p><span style="color:#ff6600;">Kita harus bersedia menerima kegagalan &#8230; sebagai peluang untuk belajar, berkembang, memperbaiki diri, membuat permulaan baru, dan bahkan mengakhiri keterpurukan dan sikap menyerah [total] kita.</span></p></blockquote>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bersalatlah.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bersalatlah.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bersalatlah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bersalatlah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bersalatlah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bersalatlah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bersalatlah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bersalatlah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bersalatlah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bersalatlah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bersalatlah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bersalatlah.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=18&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/21/4-terima-kegagalan-sebagai-peluang-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c56cfd65b24a709859aa6ee1d184107?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Shodiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>5 &#8211; Akui Terlukanya Perasaan Kehilangan</title>
		<link>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/18/5-akui-terlukanya-perasaan-kehilangan/</link>
		<comments>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/18/5-akui-terlukanya-perasaan-kehilangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 02:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[2 - Pulihkan Jiwa Yang Terluka]]></category>
		<category><![CDATA[rangkuman buku Bersalatlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/18/5-akui-terlukanya-perasaan-kehilangan/</guid>
		<description><![CDATA[Apa sajakah yang Anda rasakan ketika kehilangan sesuatu yang Anda anggap berharga, entah itu pekerjaan entah orang yang Anda kasihi? Mungkin, yang Anda rasakan lebih dari sekedar kehilangan atas pekerjaan atau orang yang Anda kasihi itu. Boleh jadi, Anda pun kehilangan rasa percaya-diri, jaminan tidak kesepian, jaminan finansial, impian masa depan, dan masih banyak lagi.
Menumpuknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=17&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Apa sajakah yang Anda rasakan ketika kehilangan sesuatu yang Anda anggap berharga, entah itu pekerjaan entah orang yang Anda kasihi? Mungkin, yang Anda rasakan lebih dari sekedar kehilangan atas pekerjaan atau orang yang Anda kasihi itu. Boleh jadi, Anda pun kehilangan rasa percaya-diri, jaminan tidak kesepian, jaminan finansial, impian masa depan, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Menumpuknya rasa kehilangan tersebut tentu berdampak besar. Bagai terlanda gempa, badai, dan banjir dalam waktu bersamaan. Satu bencana saja sudah menyulitkan, apalagi beberapa musibah sekaligus. Wajarlah apabila jiwa Anda terguncang.</p>
<p><span id="more-17"></span>Yang kurang wajar, bila guncangan dahsyat itu kita remehkan. Menipu diri. Seolah berhati baja, kita coba taklukkan ‘badai Tsunami’ di masa sulit. Bagai <i>Superman</i>, kita “biarkan semuanya berlalu”, “lupakan segala yang telah lalu”, atau pun sikap-sikap lain yang mengabaikan terlukanya perasaan kehilangan. Padahal, jika kita sepelekan guncangan ini, maka efek sampingnya berbahaya. Bukan hanya berbahaya, melainkan juga berlangsung lama, dan kian lama kian mencelakakan.</p>
<p><span style="color:#ff6600;">Menyangkal terlukanya perasaan kehilangan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Penyangkalan ini juga mempercepat pelemahan otak. Dengan kata lain, orang yang suka menyangkal kenyataan itu cenderung bodoh dan lebih cepat pikun.</span></p>
<p>Mengapa? Sebab, dia membiasakan diri melupakan hal-hal yang menyakitkan hati. Dengan kebiasaan ini, ia pun membiasakan otak untuk melupakan banyak hal. Bila otak sudah dibiasakan untuk lupa, maka hal-hal yang tidak pahit pun menjadi gampang terlupakan pula. Ini sebabnya, penyangkal kenyataan itu cenderung bodoh dan lebih cepat pikun.</p>
<p>Apakah menerima perasaan yang terluka itu berarti berkubang dalam perasaan mengasihani diri, memelihara rasa dendam, dan merutuki nasib? Bukan!</p>
<p>Kita cuma mengakui, kita adalah <i>manusia biasa</i> yang bisa terluka oleh rasa kehilangan. Iya, kan? Jangankan kita; nabi-nabi yang ‘luar biasa’ pun tidak segan-segan mengakui luka-luka hatinya, terutama di hadapan Tuhan.</p>
<p>Contohnya, ketika kehilangan harta dan keluarga, lalu menderita sakit dari ujung rambut kepala ke ujung kaki, Nabi Ayyub mengaku kepada Tuhan: “<b>Sungguh aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan&#8230; Sungguh aku ditimpa penyakit, sedangkan Engkau adalah Yang Paling Penyayang di antara semua penyayang.</b>” (QS Shad [38]: 41; al-Anbiya’ [21]: 83)</p>
<p>Dengan pengakuan jujur mengenai rasa sakit dan tersiksa itu, apakah Nabi Ayyub menjadi kurang sabar hingga merendahkan martabatnya? Tidak! Tuhan justru berfirman, “<b>Sesungguhnya Kami dapati dia [Ayyub] orang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba [Tuhannya].</b>” (QS Shad [38]: 44)</p>
<p><span style="color:#ff6600;"><i>Tuuuh&#8230;</i> Mengakui rasa sakit dan tersiksa malah membuka kesempatan untuk menjadi sebaik-baik hamba Tuhan. Makanya, <i>ngaku aja, deh</i>!</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bersalatlah.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bersalatlah.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bersalatlah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bersalatlah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bersalatlah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bersalatlah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bersalatlah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bersalatlah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bersalatlah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bersalatlah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bersalatlah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bersalatlah.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=17&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/18/5-akui-terlukanya-perasaan-kehilangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c56cfd65b24a709859aa6ee1d184107?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Shodiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>6 &#8211; Lepaskan Emosi Negatif Secara Positif</title>
		<link>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/16/6-lepaskan-emosi-negatif-secara-positif/</link>
		<comments>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/16/6-lepaskan-emosi-negatif-secara-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 02:28:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[2 - Pulihkan Jiwa Yang Terluka]]></category>
		<category><![CDATA[rangkuman buku Bersalatlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/16/6-lepaskan-emosi-negatif-secara-positif/</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang kita lakukan ketika merasakan kekecewaan yang mendalam? Marilah kita introspeksi, memeriksa diri sendiri.
Membenturkan kepala ke dinding? Kasihan dindingnya. Hehehe&#8230;
Mengobrak-abrik segala barang? Membanting piring, gelas, atau barang pecah-belah lainnya? Kasihan ruangannya, barangnya, lantainya&#8230; Hehehe juga.
Menganiaya makhluk lain yang tak berdaya? Aduuuh&#8230; Apakah kita mau demo unjuk kekuatan?
Bila mau unjuk kekuatan, tunjukkan kemampuan menaklukkan hawa-nafsu! [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=16&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Apa yang kita lakukan ketika merasakan kekecewaan yang mendalam? Marilah kita introspeksi, memeriksa diri sendiri.</p>
<p>Membenturkan kepala ke dinding? Kasihan dindingnya. <i>Hehehe&#8230;</i></p>
<p>Mengobrak-abrik segala barang? Membanting piring, gelas, atau barang pecah-belah lainnya? Kasihan ruangannya, barangnya, lantainya&#8230; <i>Hehehe</i> juga.</p>
<p>Menganiaya makhluk lain yang tak berdaya? <i>Aduuuh&#8230;</i> Apakah kita mau demo unjuk kekuatan?</p>
<p><span style="color:#ff6600;">Bila mau unjuk kekuatan, tunjukkan kemampuan menaklukkan hawa-nafsu! Ini baru betul-betul perkasa.</span></p>
<p>Kalau <i>cuma</i> mengalahkan dinding, barang pecah-belah, dan makhluk lain yang tak berdaya, itu sih <i>keciiil</i>. Anak kecil pun mampu melakukannya.</p>
<p><span id="more-16"></span>Bagaimana jika memusuhi dan membalas dendam? <i>Hmm&#8230;</i> Yang kita musuhi tentu akan membalas kita, lalu terjadilah saling balas terus-menerus sampai mampus. Hasilnya, rugi bin sial bin rugi bin sial bin &#8230;. Rugi bertubi-tubi.</p>
<p><i>Ketimbang</i> rugi bertubi-tubi, <i>mendingan</i> kita manfaatkan cara lain yang <i>nggak</i> merugikan.</p>
<p>Mengingat-ingat kesalahan orang? Kita salahkan seseorang atas peristiwa kehilangan ini?</p>
<p>Menyalahkan orang dan mengingat-ingat kesalahannya memang gampang. Tapi, ini malah membuat emosi kita kian membara. Bagai menyiram api dengan minyak. Membuat luka baru di atas luka lama. Rugi bin sial juga, <i>dong</i>!</p>
<p>Memang <i>sih</i>, kita berhak merasa kecewa dan marah kepada orang yang bersalah. Namun, perlu kita perhatikan, menyalah-nyalahkan orang tidaklah melepaskan jiwa kita dari kerugian dan kesialan. Makanya, <i>mendingan</i> kita pertimbangkan cara lain.</p>
<p>Untuk itu, kita bisa belajar dari pengalaman Cheryl Myers. Di bawah ini, kita saksikan bagaimana dia mengekspresikan rasa kecewa dan marah lantaran di-PHK.</p>
<blockquote><p>Cheryl memang marah. Dia tidak yakin siapa yang menjadi sasaran kemarahannya —atasannya [yang mem-PHK dia] ataukah dirinya sendiri.<br />
Sewaktu dia teringat perlakuan atasannya, Terri Keating, murkalah dia.<br />
Cheryl menilai, Terri sering licik. Dia selalu mencela pekerjaan Cheryl dan membesar-besarkan masalah. Namun, Terri melakukannya saat tidak ada orang lain. Dengan demikian, Cheryl tidak bisa mengatakan kepada siapa pun bahwa dia selalu dicela, sebab tidak ada bukti.<br />
Di samping menyalahkan Terri, Cheryl juga menyalahkan diri sendiri. “Seandainya aku bekerja lebih keras, tentu aku tidak di-PHK.”<br />
Namun kemudian, Cheryl menyadari, hidup adalah menghadapi situasi dan orang-orang yang tidak menyenangkan. Hanya dengan menghadapi itu semua, kita berkesempatan untuk menjadi lebih baik. Mungkin PHK tersebut memang seharusnya terjadi agar dia bisa memetik hikmah yang terkandung di dalamnya&#8230;<br />
Setelah jelas dalam pikirannya bahwa terjadinya PHK tersebut bukanlah lantaran kesalahannya semata-mata, dia menulis sepucuk surat kepada Terri —tapi tidak dikirim. Surat ini memang hanya untuk ditulis, bukan untuk dikirim. Di surat ini, Cheryl menuliskan pikirannya tentang Terri dan tentang apa yang terjadi.<br />
Saat Cheryl menuliskan semuanya di selembar kertas, dia merasakan berbagai macam perasaan yang menyakitkan —terluka, sedih, dan murka. Namun, dia tidak lagi merasa bersalah, dan ini melegakan.<br />
Akhirnya, Cheryl menulis sepucuk surat lagi kepada Terri yang juga tidak dikirimkannya. Dinyatakannya bahwa dia memaafkan Terri. Dia tahu, dia hanya menyakiti diri sendiri apabila terus-menerus merasakan kekecewaan tersebut.</p></blockquote>
<p>Dari pengalaman Cheryl tersebut, bisa kita petik pelajaran bahwa mengungkap perasaan yang mendalam lewat tulisan bisa menjauhkan kita dari rasa terluka. Ini selaras dengan pernyataan James W. Pennebaker yang dikutip Hernowo dalam buku <i>Quantum Writing</i>. Dia mengatakan, menuliskan emosi negatif akan membangkitkan rasa puas dan lega, sehingga melepaskan kita dari rasa hampa atau pun kecewa. (Alhamdulillaah, kita jadi mulai lega, deh.)</p>
<p>Kalau kita sudah mulai merasa lega, sebaiknya kita menulis surat yang tidak sekedar ditulis, tetapi juga dikirimkan kepada yang bersangkutan. Memberitahukan kerelaan kita dalam menerima keberadaan orang yang kita anggap pernah melukai perasaan kita bisa mengurangi lagi beban yang masih tersisa di hati kita. (Alhamdulillaah, jadi tambah lega, deh.)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bersalatlah.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bersalatlah.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bersalatlah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bersalatlah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bersalatlah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bersalatlah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bersalatlah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bersalatlah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bersalatlah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bersalatlah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bersalatlah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bersalatlah.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=16&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/16/6-lepaskan-emosi-negatif-secara-positif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c56cfd65b24a709859aa6ee1d184107?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Shodiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>7 &#8211; Tenangkan Gejolak Jiwa Secara Sehat</title>
		<link>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/14/7-tenangkan-gejolak-jiwa-secara-sehat/</link>
		<comments>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/14/7-tenangkan-gejolak-jiwa-secara-sehat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 02:26:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[2 - Pulihkan Jiwa Yang Terluka]]></category>
		<category><![CDATA[rangkuman buku Bersalatlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/14/7-tenangkan-gejolak-jiwa-secara-sehat/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang, kendati religius, ternyata kurang mampu menenangkan gejolak jiwa kita. Mereka malah merasa terganggu bila kita ungkapkan emosi negatif yang kita rasakan. Telinga mereka tertutup rapat-rapat. Mereka justru membuka mulut lebar-lebar dengan menggurui bagaimana seharusnya perasaan kita, apa yang harus kita perbuat, dan bagaimana melakukannya. Mereka mengabaikan terlukanya perasaan kita.
Kalau kita curhat kepada para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=15&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebagian orang, kendati religius, ternyata kurang mampu menenangkan gejolak jiwa kita. Mereka malah merasa terganggu bila kita ungkapkan emosi negatif yang kita rasakan. Telinga mereka tertutup rapat-rapat. Mereka justru membuka mulut lebar-lebar dengan menggurui bagaimana se<i>harus</i>nya perasaan kita, apa yang <i>harus</i> kita perbuat, dan bagaimana melakukannya. Mereka meng<i>abai</i>kan terlukanya perasaan kita.</p>
<p>Kalau kita curhat kepada para pengabai perasaan itu, bisa-bisa jiwa kita yang sedang terluka malah menjadi semakin lemah. Ibaratnya, otot kaki telah terkilir dan belum terobati <i>kok</i> malah disuruh berlari terus mendaki gunung dan dilarang berhenti sebelum sampai di puncak. Makin parah, bukan?</p>
<p><span style="color:#ff6600;">Supaya luka hati kita menjadi sembuh dan tidak makin parah, lebih baik kita curhat kepada para pemerhati perasaan. Mereka ialah orang-orang yang mem<i>perhati</i>kan perasaan kita, memaklumi luka hati, membuka telinga lebar-lebar guna mendengar keluh-kesah kita, menyayangi kita, menerima kita apa adanya, dan tidak menghakimi kita.</span></p>
<p><span id="more-15"></span>Para pemerhati-perasaan yang memaklumi kita itu sungguh penting untuk pemulihan jiwa kita. Sebab, bila luka hati kita dimaklumi, maka kita menjadi lebih tenang, sehingga lebih mempermudah pemulihan diri. Persis seperti pasien yang lebih tenang memeriksakan retaknya tulang kakinya apabila dokternya memaklumi rasa sakitnya, “Sakit sekali, ya?”</p>
<p>Lain halnya jika dokternya malah meremehkan, “Alaaah, gitu aja kok mengerang-ngerang kayak anak kecil. Ini kan cuma retak. Belum patah, apalagi putus.” <i>Bayangin</i>, pasien mana nggak makin meringis kesakitan dengan perasaan yang kian bergejolak kalau disepelekan begitu.</p>
<p>Oleh sebab itu, bila kita hendak curhat untuk menenangkan gejolak jiwa, perlu kita kenali siapa pengabai dan siapa pemerhati perasaan.</p>
<p>Untuk mengenali perbedaan antara pengabai dan pemerhati perasaan, amatilah pola kata-kata yang mereka gunakan. Pengabai perasaan umumnya gemar menyampaikan saran berupa perintah atau larangan keras dan berkomentar dengan kata-kata negatif (“jangan”, “tidak”, dsb.). Sebaliknya, saran atau komentar dari pemerhati perasaan biasanya lembut, memakai kata-kata positif (“silakan”, “oke”, dsb.).</p>
<p>Contoh Komentar Negatif:</p>
<blockquote><p>Alaaah, baru begitu saja sudah mengeluh. Jangan membesar-besarkan masalah! Banyak orang lebih sengsara daripada dirimu dan mereka tidak mengeluh.<br />
Jangan takut! Kalau tidak berani ambil risiko, pasti kau takkan maju.</p></blockquote>
<p>Contoh Komentar Positif:</p>
<blockquote><p>Kisah nyatamu menyentuh hatiku. Kurasa, pengalamanmu lebih pahit daripada yang pernah kualami. Aku salut, kau lebih mampu menceritakan pengalaman pahit diri sendiri daripada aku.<br />
Hati-hati melangkah, ya! Dengan berhati-hati, insya’ Allah selamatlah kau dari segala risiko, sehingga sampai di tempat tujuan dalam keadaan yang sebaik-baiknya.</p></blockquote>
<p>Bagaimana? Anda bisa merasakan, komentar positif dari pemerhati perasaan itu lebih elok, bukan?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bersalatlah.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bersalatlah.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bersalatlah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bersalatlah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bersalatlah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bersalatlah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bersalatlah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bersalatlah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bersalatlah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bersalatlah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bersalatlah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bersalatlah.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=15&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/14/7-tenangkan-gejolak-jiwa-secara-sehat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c56cfd65b24a709859aa6ee1d184107?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Shodiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>8 &#8211; Gairahkan Diri dengan Keceriaan</title>
		<link>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/11/8-gairahkan-diri-dengan-keceriaan/</link>
		<comments>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/11/8-gairahkan-diri-dengan-keceriaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 02:09:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[2 - Pulihkan Jiwa Yang Terluka]]></category>
		<category><![CDATA[rangkuman buku Bersalatlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/11/8-gairahkan-diri-dengan-keceriaan/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk bersikap dan berperilaku ceria, tidak usah menunggu bahagia. “Perilaku dan perasaan itu berjalan seiring.” Demikian keterangan dari William James, sang filsuf pragmatis. Maksudnya, sebagaimana rasa bahagia membangkitkan keceriaan, perilaku ceria pun menghasilkan kebahagiaan.
Mengapa begitu? Sebab, sewaktu kita bersikap ceria, kata Peter Doskoch di majalah Psychology Today, otak kita menghasilkan zat endorfin yang merupakan penangkal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=14&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Untuk bersikap dan berperilaku ceria, tidak usah menunggu bahagia. “Perilaku dan perasaan itu berjalan seiring.” Demikian keterangan dari William James, sang filsuf pragmatis. Maksudnya, <span style="color:#ff6600;">sebagaimana rasa bahagia membangkitkan keceriaan, perilaku ceria pun menghasilkan kebahagiaan</span>.</p>
<p>Mengapa begitu? Sebab, sewaktu kita bersikap ceria, kata Peter Doskoch di majalah <i>Psychology Today</i>, otak kita menghasilkan zat endorfin yang merupakan <a href="http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/07/10-si-penangis-yang-akan-masuk-surga/">penangkal rasa sakit alami</a>. Selain itu, turunlah denyut jantung dan tekanan darah. Bila sudah begini, jiwa yang terluka berat pun dapat dipulihkan dengan lebih lancar. Ini sebabnya, perilaku ceria menghasilkan kebahagiaan.</p>
<p>Ayo! Ceria, <i>dong</i>! Mau bahagia, ‘kan? Tunggu apa lagi?</p>
<p><span id="more-14"></span>Ooo&#8230; Menunggu jawaban, ya? Baiklah. Kami mengerti. Mungkin Anda bertanya-tanya: “Bagaimana mungkin bersikap ceria ketika belum sepenuhnya merasa bahagia?”</p>
<p>Kalau itu pertanyaan Anda, inilah jawaban yang Anda tunggu:</p>
<p><span style="color:#ff6600;">Kalau &#8220;masa sulit&#8221; telah membuat Anda kehilangan rasa riang, sehingga tak mampu bersikap ceria, tenanglah. Anda bisa mendapatkannya kembali dengan mudah. Caranya, mulailah dengan berusaha tersenyum semanis-manisnya.</span></p>
<p>Sekarang, tiada lagi yang Anda tunggu, &#8216;kan? Bagus. Anda sudah siap bersikap ceria dengan senyum semanis-manisnya.</p>
<p>Ataukah Anda masih kesulitan bersikap ceria? Sulit tersenyum ketika belum sepenuhnya merasa bahagia? Tenanglah. Jalan keluarnya mudah pula. Di antaranya, cobalah <i>dekati anak-anak kecil, lalu bercandalah dengan mereka</i>.</p>
<p>Dalam pengalaman kami, semua anak kecil yang sehat pasti senang diajak bercanda. Kalau si anak menolak ketika kami ajak bercanda, biasanya itu karena dia belum cukup mengenal kami. Kalau sudah cukup kenal, canda dalam bentuk apa pun berjalan lancar. Kami pun menjadi merasa ‘geli’ menyaksikan tingkah-polah, senyum, dan tawa mereka. Hasilnya, tahu-tahu, kami tersenyum (dan tertawa). Gampang, ‘kan?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bersalatlah.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bersalatlah.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bersalatlah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bersalatlah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bersalatlah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bersalatlah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bersalatlah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bersalatlah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bersalatlah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bersalatlah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bersalatlah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bersalatlah.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=14&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/11/8-gairahkan-diri-dengan-keceriaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c56cfd65b24a709859aa6ee1d184107?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Shodiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>9 &#8211; Tegar di Tengah Penderitaan</title>
		<link>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/09/9-tegar-di-tengah-penderitaan/</link>
		<comments>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/09/9-tegar-di-tengah-penderitaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jan 2008 00:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[3 - Bangkit dari Keterpurukan]]></category>
		<category><![CDATA[rangkuman buku Bersalatlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/09/9-tegar-di-tengah-penderitaan/</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 6 Juni 1973, John Prunty bersama dengan lima orang pekerja konstruksi lainnya bekerja di atas atap sebuah rumah. Hari sedang panas dan gerah, sedangkan pekerjaannya memang sukar.
Saat berada di puncak atap, seorang rekannya memintanya membantu mengambilkan suatu perkakas. Dalam usahanya mengambil perkakas tersebut, John melangkah ke depan. Namun, sebatang balok penyangga tubuhnya tiba-tiba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=13&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pada tanggal 6 Juni 1973, John Prunty bersama dengan lima orang pekerja konstruksi lainnya bekerja di atas atap sebuah rumah. Hari sedang panas dan gerah, sedangkan pekerjaannya memang sukar.</p>
<p>Saat berada di puncak atap, seorang rekannya memintanya membantu mengambilkan suatu perkakas. Dalam usahanya mengambil perkakas tersebut, John melangkah ke depan. Namun, sebatang balok penyangga tubuhnya tiba-tiba terlepas jatuh. Ia pun kehilangan keseimbangan.</p>
<p><span id="more-13"></span>Secara naluriah, John berusaha melompat, mengira dapat mengembalikan keseimbangan. Tapi terlambat. Ia melayang jatuh tanpa terkendali. Tubuhnya terhempas dengan kepala tepat di bawah. Kejatuhannya mengenaskan, sebagaimana yang kemudian ia ceritakan sendiri:</p>
<blockquote><p> Saya masih saja bergidik saat teringat pada suara gemeretak tulang-tulang belakang yang menyakitkan ketika saling bertubrukan. Gerak jatuh tubuh saya, ditambah dengan bobot tubuh saya, menghunjamkan kepala saya ke dada saya. Seketika saya dapat merasakan, saya telah kehilangan perasaan terhadap kedua kaki.<br />
Saya mendengar teriakan dari atas, “Hai! John jatuh!” Saya berusaha segera bangkit, tetapi sia-sia. Hanya kepala saja yang masih mematuhi perintah otak. Mengetahui ketidak-berdayaan ini, saya merasa sangat cemas, murka, dan putus asa.<br />
Saya tidak merasakan sakit sama sekali sampai seseorang mengangkat sedikit kepala saya untuk menaruh sebuah bantal di bawahnya. Kemudian rasa nyeri begitu menusuk, sehingga saya memintanya menyingkirkan bantal itu.<br />
Saya merasa seolah-olah kepala saya bergantung pada seutas benang tipis. Setiap kali memutarnya, walau sedikit saja, rasa nyeri kian terasa. Rasa-rasanya, benang tipis itu akan putus dan kepala saya akan terlepas. Namun bagaimanapun, saya berusaha tetap sadar.<br />
Sebentar kemudian tim penolong tiba dan menaruh tandu di bawah tubuh saya. Saya takut sekali menggerakkan tubuh, karena rasa nyeri kini sudah amat menyengat. Tapi setelah berada di ambulan, saya mulai merasa agak lebih nyaman. Saya yakin, saya akan segera berada di tangan para ahli yang akan membereskan segalanya.<br />
Di rumah sakit, ahli bedah syaraf yang menangani saya segera menempatkan saya di atas meja sinar-X. Ia lalu naik menggunakan tangan dan kakinya untuk menekan serta mengatur kepala saya agar dapat diperoleh sudut penyinaran yang tepat.<br />
Walaupun pernah merasakan kesakitan sebelumnya, saya yakin, tidak ada yang separah ini. Sebentar kemudian, dokter memberikan penjelasan yang tidak menyenangkan: leher saya memang patah, antara tulang kelima dan keenam.</p></blockquote>
<p>Lebih dari itu, John merasakan nyeri yang ‘berdengung’, yang kian terasa bila berusaha bergerak, walau sedikit saja. Sebaliknya, semakin diam berbaring, semakin sedikit nyeri yang terasa. Sayangnya, ketika rasa nyeri ini berkurang, kengerianlah yang ia rasakan. Sebab, disadarinya, ia telah mati-rasa, tidak bisa merasakan apa-apa sama sekali, dari leher ke bawah. Ia merasa seperti mumi yang terbaring di peti mati. Ngeri, kan?</p>
<p>Lebih ngeri lagi, setelah berminggu-minggu menjalani perawatan, didapatinya bahwa dia takkan sembuh. John telah menjadi seorang kuadraplegia, orang cacat yang lumpuh dari leher ke bawah seumur hidup!</p>
<p>Hah?! Rasa-rasanya berat sekali bagi kami untuk meneruskan kisah tersebut. Baru membayangkan saja, mata kami sudah basah oleh air mata. Kami membayangkan: Mungkinkah John mampu tegar menjalani hari-hari berikutnya dalam keadaan yang amat mengenaskan itu?</p>
<p>Ternyata, John memutuskan untuk <i>tidak menyerah total</i>. “Bila saya harus hidup di atas kursi roda listrik untuk selama-lamanya, saya hanya perlu tersenyum atau mengedipkan mata kepada anak-anak yang memandang saya dengan mata lebar di pasar swalayan.”</p>
<p>Namun, akhirnya, John melakukan lebih dari sekadar tersenyum atau mengedipkan mata kepada anak-anak. Ia tidak sekedar tegar menanggung penderitaan. Lebih dari itu, kini dia sukses berwiraswasta dengan menyediakan pelayanan pramubayi (<i>baby sitter</i>).</p>
<p>Begitulah. John sukses bangkit dari keterpurukan karena <i>menghargai kemampuan diri dalam menanggung penderitaan</i> dengan cara tegar. Bagaimana dengan kita?</p>
<p><span style="color:#ff6600;">Sebetulnya, kita pun memiliki kemampuan menanggung penderitaan. Di Al-Qur’an disebutkan, <i>Tuhan takkan membebani manusia melebihi kemampuannya</i> (QS al-Baqarah [2]: 286). Dia pun telah menciptakan mekanisme tubuh kita sedemikian rupa, sehingga ketika diri kita tak mampu menanggung penderitaan, kita menjadi pingsan atau kehilangan kesadaran. Selama tidak kehilangan kesadaran, itu pertanda kita masih dipercaya Tuhan bahwa kita mampu menanggung penderitaan yang Dia ujikan kepada kita.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bersalatlah.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bersalatlah.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bersalatlah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bersalatlah.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bersalatlah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bersalatlah.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bersalatlah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bersalatlah.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bersalatlah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bersalatlah.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bersalatlah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bersalatlah.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=13&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/09/9-tegar-di-tengah-penderitaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c56cfd65b24a709859aa6ee1d184107?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Shodiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>10 &#8211; Si Penangis Yang Akan Masuk Surga</title>
		<link>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/07/10-si-penangis-yang-akan-masuk-surga/</link>
		<comments>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/07/10-si-penangis-yang-akan-masuk-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2008 00:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[3 - Bangkit dari Keterpurukan]]></category>
		<category><![CDATA[rangkuman buku Bersalatlah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/07/10-si-penangis-yang-akan-masuk-surga/</guid>
		<description><![CDATA[Nabi Muhammad bersabda: “Aku masuk ke dalam surga, lalu aku mendengar suara langkah orang berjalan [di dalam surga]. Aku bertanya [kepada para malaikat], ‘Siapa itu?’ Mereka menjawab, ‘Dialah si penangis, putri Milhan.’” (HR Muslim)
Mengapa putri Milhan itu akan berada di surga, sedangkan dia gampang menangis? Apakah dia, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ummu Sulaim, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=12&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Nabi Muhammad bersabda: “Aku masuk ke dalam surga, lalu aku mendengar suara langkah orang berjalan [di dalam surga]. Aku bertanya [kepada para malaikat], ‘Siapa itu?’ Mereka menjawab, ‘Dialah si penangis, putri Milhan.’” (HR Muslim)</p>
<p>Mengapa putri Milhan itu akan berada di surga, sedangkan dia gampang menangis? Apakah dia, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ummu Sulaim, manusia tegar yang layak masuk surga?</p>
<p><span id="more-12"></span>Ummu Sulaim mendapat julukan si penangis karena gampang menangis. Perasaannya sensitif. Namun, terutama sejak berbai’at (bersumpah setia) mengikuti kepemimpinan Nabi Muhammad), <span style="color:#ff6600;">si penangis ini tidak meratap-ratap</span>.</p>
<p>Mengapa tidak meratap-ratap? Apakah sejak bai’at itu, Ummu Sulaim tidak pernah mengalami masa sulit, sehingga “tiada alasan” baginya untuk berlarut-larut dalam kesedihan? Marilah kita telusuri jejak-jejak hidupnya yang relevan dengan tema perbincangan kita sekarang.</p>
<p>Ketegaran Ummu Sulaim yang paling terkenal—mungkin Anda pernah mendengarnya—terjadi sewaktu anaknya yang masih kecil (buah dari perkawinannya dengan Abu Thalhah) meninggal dunia setelah menderita sakit beberapa saat. Dengan tenang, Ummu Sulaim berpesan kepada keluarganya: “Jangan kalian ceritakan kepada Abu Thalhah perihal anaknya itu. Biar aku sendiri yang bercerita kepadanya.”</p>
<p>Malamnya, Abu Thalhah datang dan menanyakan keadaan anak mereka. “Sudah lebih tenang,” jawab Ummu Sulaim seraya menghidangkan santap malam kepadanya. Sesudah suaminya puas makan dan minum, Ummu Sulaim pergi ke kamar dan bersolek secantik mungkin. Melihat itu, bangkitlah nafsu birahi Abu Thalhah, sehingga suami-istri ini bersetubuh.</p>
<p>Setelah melihat suaminya terpuaskan, Ummu Sulaim bertanya kepadanya: “Bagaimana menurutmu jika ada seseorang meminjamkan barang miliknya kepada suatu keluarga, lalu ia memintanya kembali, apakah keluarga tersebut berhak menolak?”</p>
<p>“Tidak,” jawab suaminya.</p>
<p>“Kalau begitu,” ujar Ummu Sulaim, “tabahkanlah hatimu dengan kematian anakmu.” (Si anak sudah diminta kembali oleh pemiliknya, yaitu Tuhan.)</p>
<p>Mendengar berita duka ini, Abu Thalhah menjadi gusar. “Kau biarkan aku menikmati pelayananmu, lalu baru kau beritahu aku tentang anakku?”</p>
<p>Kegusaran Abu Thalhah ini dapat kita maklumi. Pasalnya, Ummu Sulaim itu berwatak terbuka terhadap kebenaran. (<span style="color:#ff6600;">Dia tidak malu curhat, termasuk dalam membicarakan persoalan seksual yang biasanya dianggap memalukan bagi wanita pada umumnya.</span>)</p>
<p>Esoknya, Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah saw. dan menceritakan apa yang telah terjadi. Kemudian beliau menenangkan dia dengan memberinya <i>harapan baru</i>: “<b>Mudah-mudahan Allah memberi berkah pada malam yang telah kalian lewati dengan manis itu.</b>”</p>
<p>Ternyata, harapan beliau menjadi kenyataan. Kejadian malam itu menyebabkan Ummu Sulaim hamil dan melahirkan seorang anak lagi. Belakangan, si anak tumbuh hingga dewasa dan menjadi orang yang saleh.</p>
<p>Manis, bukan? Begitulah buah berkah ketegaran Ummu Sulaim dalam berumah-tangga dengan Abu Thalhah.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bersalatlah.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bersalatlah.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bersalatlah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bersalatlah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bersalatlah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bersalatlah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bersalatlah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bersalatlah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bersalatlah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bersalatlah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bersalatlah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bersalatlah.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bersalatlah.wordpress.com&blog=635231&post=12&subd=bersalatlah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bersalatlah.wordpress.com/2008/01/07/10-si-penangis-yang-akan-masuk-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0c56cfd65b24a709859aa6ee1d184107?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Shodiq</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>