8 – Gairahkan Diri dengan Keceriaan
11 Januari 2008
Untuk bersikap dan berperilaku ceria, tidak usah menunggu bahagia. “Perilaku dan perasaan itu berjalan seiring.” Demikian keterangan dari William James, sang filsuf pragmatis. Maksudnya, sebagaimana rasa bahagia membangkitkan keceriaan, perilaku ceria pun menghasilkan kebahagiaan.
Mengapa begitu? Sebab, sewaktu kita bersikap ceria, kata Peter Doskoch di majalah Psychology Today, otak kita menghasilkan zat endorfin yang merupakan penangkal rasa sakit alami. Selain itu, turunlah denyut jantung dan tekanan darah. Bila sudah begini, jiwa yang terluka berat pun dapat dipulihkan dengan lebih lancar. Ini sebabnya, perilaku ceria menghasilkan kebahagiaan.
Ayo! Ceria, dong! Mau bahagia, ‘kan? Tunggu apa lagi?
9 – Tegar di Tengah Penderitaan
9 Januari 2008
Pada tanggal 6 Juni 1973, John Prunty bersama dengan lima orang pekerja konstruksi lainnya bekerja di atas atap sebuah rumah. Hari sedang panas dan gerah, sedangkan pekerjaannya memang sukar.
Saat berada di puncak atap, seorang rekannya memintanya membantu mengambilkan suatu perkakas. Dalam usahanya mengambil perkakas tersebut, John melangkah ke depan. Namun, sebatang balok penyangga tubuhnya tiba-tiba terlepas jatuh. Ia pun kehilangan keseimbangan.
10 – Si Penangis Yang Akan Masuk Surga
7 Januari 2008
Nabi Muhammad bersabda: “Aku masuk ke dalam surga, lalu aku mendengar suara langkah orang berjalan [di dalam surga]. Aku bertanya [kepada para malaikat], ‘Siapa itu?’ Mereka menjawab, ‘Dialah si penangis, putri Milhan.’” (HR Muslim)
Mengapa putri Milhan itu akan berada di surga, sedangkan dia gampang menangis? Apakah dia, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ummu Sulaim, manusia tegar yang layak masuk surga?
11 – Berjuang Hingga Titik Keringat Terakhir
4 Januari 2008
Ponirah lahir pada tahun 1949, masa yang paling sulit dalam sejarah Republik Indonesia. Ia terlahir dari keluarga miskin. Jadinya, kehidupannya pada masa kanak-kanak itu sulit bin berat.
Masa kecilnya dilaluinya dengan sungguh amat sangat sederhana sekali. Sebagaimana hampir semua wong cilik pada masa itu, ia tidak pernah mengenal buku, pensil, apalagi bangku sekolah.
Dengan kesederhanaannya pula, Ponirah menutup lembaran masa lajangnya pada usia muda. Ia menikah dengan Suparjo, seorang buruh penggarap sawah lelaki pilihan orangtuanya. Konon, maksudnya, untuk meringankan beban orangtuanya.
Lenyapkah beban kesulitan hidup dengan pernikahan itu? Tidak. Sebagian beban kesulitan hidup orangtua Ponirah berpindah ke pundak Ponirah dan suaminya.
12 – Bangkit Menuju Kesuksesan Baru
2 Januari 2008
Lahir pada tahun 1941 di Ottawa, sebuah kota besar di Kanada, Paul tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan dinamis. Selama masa awal 1950-an, nama Anka cukup populer di kota ini. Ia menjadi wartawan muda. Kemampuan menulisnya mencuri banyak perhatian. Namun, minatnya di dunia jurnalistik hanya sebentar. Ia beralih ke bidang lain yang lebih menarik perhatian remaja pada umumnya.
Dunia musik populer adalah impian Paul Anka sejak itu. Ia pun belajar bernyanyi dan memainkan piano, trompet, dan drum. Ia belajar dengan giat. “Aku seperti pecandu. Dan memang yang kuinginkan sejak kecil hanyalah menjadi seorang penyanyi. Tapi semua orang [di dekatku] menganggap aku gila,” ungkapnya.
13 – Jika Salat, Maka Apa?
28 Januari 2007
Melalui shalat, Anda ingin lepas dari jerat persoalan berat? Bagus. Ingin bangkit menuju kesuksesan baru di berbagai bidang? Bagus sekali. Masalahnya, shalat yang bagaimanakah yang menjadi penolong kita?
Tak sedikit di antara kita yang rajin melakukan shalat, dan selalu berdoa memohon rezeki di dalamnya, tapi taraf kehidupan kita tidak mengalami peningkatan. Mengapa?
14 – Salat Yang Pulihkan Luka Jiwa
28 Januari 2007
Pada suatu masa, siang dan malam, rasa rinduku kepada “seorang bidadari yang tiada duanya” begitu memuncak. Berlinanglah air mataku tanpa dapat kutahan. Apalah dayaku?
Aku tak berkutik. Tiada yang bisa kulakukan selain berserah diri kepada Tuhan. Dan cara berserah diri kepada-Nya yang paling afdol mungkin adalah shalat secara khusyuk.
Masalahnya, hatiku sedang porak-poranda. Tubuhku lemas. Loyo. Bagaimana mungkin aku bisa bershalat secara khusyuk, sedangkan bangkit dari ranjang pun terasa berat sekali?