14 – Salat Yang Pulihkan Luka Jiwa

Pada suatu masa, siang dan malam, rasa rinduku kepada “seorang bidadari yang tiada duanya” begitu memuncak. Berlinanglah air mataku tanpa dapat kutahan. Apalah dayaku?

Aku tak berkutik. Tiada yang bisa kulakukan selain berserah diri kepada Tuhan. Dan cara berserah diri kepada-Nya yang paling afdol mungkin adalah shalat secara khusyuk.

Masalahnya, hatiku sedang porak-poranda. Tubuhku lemas. Loyo. Bagaimana mungkin aku bisa bershalat secara khusyuk, sedangkan bangkit dari ranjang pun terasa berat sekali?

Ah, pikirku, biar sajalah! Biar saja terasa berat. Biar saja tak mampu bershalat secara khusyuk. Aku serahkan segala yang ada dalam diriku kepada Tuhan. Ya, segalanya kuserahkan, termasuk ketidak-mampuanku untuk bershalat secara khusyuk.

“Bidadariku” Milik Siapa?

Hidup-matiku bukan milikku. Hidup-matiku milik Tuhan Yang Mengatur alam beserta segenap isinya, termasuk diriku!

Ya ampuuun…. Betapa naifnya diriku. Lihat! Hidup-matiku saja bukan milikku. Ngapain aku merasa seolah-olah si dia milikku sepenuhnya?

“Ya Allah! Betapa kumuhnya hatiku! Milik-Mu itu selama ini telah kuaku-aku sebagai milikku. Sungguh aku tak tahu diri. Kini, dengan shalatku ini, kukembalikan dia kepada-Mu. Ya Allah! Terimalah pengembalianku ini. Dan sucikanlah kembali kalbuku.”

Ihdinash shiraathal mustaqiim

Tunjukilah kami jalan orang-orang yang lurus.

ayu-azmi-14-soft.jpg

“Ya Allah! Engkau Mahatahu. Kau tahu isi hatiku. Kau tahu bidadari mana yang aku hasrati bila Kau berkenan memasukkan aku ke taman surga-Mu. Memang, akal sehatku senantiasa mengingatkan aku bahwa dia milik-Mu. Akan tetapi, hati kecilku berbisik, dia terlalu indah untuk kulepaskan. Haruskah aku lupakan dia? Manakah jalan yang happy ending bagi semuanya (bagi Engkau, bagi kami, bagi keluarga kami, bagi masyarakat kami, ….)?”

Menguras Lubuk Hati

Saat rukuk, kuadukan kembali gejolak jiwaku.

“Ya Allah! Kenikmatan insani, yang pernah Kau pinjamkan kepadaku melalui kedekatan kami berdua, selalu membayangi hari-hariku dan malam-malamku. Tawanya yang renyah, budi-pekertinya yang santun, olah-katanya yang menawan, suaranya yang merdu, senyumnya yang aduhai, parasnya yang cemerlang, cintanya yang begitu tulus kepadaku…. Semuanya begitu indah, bukan? Ya Tuhan! Sungguh aku penasaran.”

Diiringi rasa penasaran dan mata yang berkaca-kaca, aku berdiri kembali (i’tidal). Aku diam sebentar. Kubiarkan diri tidak lekas-lekas sujud. Kuberi kesempatan agar rasa penasaran dan berbagai emosi yang menggumpal di kepala itu menguap melalui seluruh pori-pori.

Bagaimana tidak menguap? Tadi, sewaktu berdiri, si dia kukembalikan kepada pemiliknya yang sejati. Kini, sewaktu berdiri lagi, si dia kukembalikan lagi. Pengembalian-ulang ini lebih mendalam karena dipicu oleh rasa penasaran yang begitu mendalam. Akibatnya, bergetarlah lubuk hati. Darinya, mengalirlah getaran-getaran ke seluruh tubuh yang lepaskan berbagai perasaan.

Getaran itu mengalir terus dan semakin kencang. Air mata turun membasahi pipi. Pandangan mata menjadi buram dan semakin buram. Bila kubiarkan begini, bisa-bisa kesadaranku menghilang. Bila kubiarkan begitu, bisa-bisa bisikan dari jin kusangka ilham dari Tuhan. Sekarang, sudah saatnya aku bertekuk-lutut di hadapan Tuhan.

Dengan bertekuk-lutut, aku bersujud. Kembali aku serahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kali ini lebih total.

Dalam keheningan, kutatap kegagalanku dalam membina hubungan cinta dengan si dia. Air mata mengalir.

Dalam keheningan, kuakui betapa pedihnya putus hubungan dengannya. Air mata mengalir lagi dan terus mengalir.

Dalam keheningan, kukuras lubuk hati sedalam-dalamnya. Air mata membanjiri sajadah.

Pada mulanya, memang air mata duka yang aku kucurkan. Sementara pengurasan lubuk hati terus kuperdalam, jiwaku menjadi kering-kerontang. Tiada isinya selain penderitaan. Namun, ketika lubuk hatiku yang paling dalam sudah tersentuh oleh kesadaran-kesadaran baru, saat itulah air mata bahagia mulai berhamburan. (Kesadaran baru itu antara lain: “Jika aku bersabar menerima taqdir dan menyambut Hari Akhir, maka tentu Allah akan jadikan dia bidadariku kelak di surga, untuk selama-lamanya.”)

Puncaknya, dalam keheningan telaga air mata bahagia, tumbuhlah semangatku untuk bangkit dari sujud dan bangkit dari keterpurukan.

Secercah Keindahan dari Sang Mahaindah

Saat duduk di antara dua sujud, kumanfaatkan kesempatan ini untuk rehat sejenak di tengah-tengah pengurasan lubuk hati. Kupantau lubuk hati, kalau-kalau ada kebocoran di sana sini. Begitu melihat kebocoran, segera kuadukan hal ini kepada Tuhan.

“Ya Allah! Ampunilah aku. Betapapun kotornya hatiku, Engkau Maha Mensucikan. Ya Allah! Sayangilah aku. Betapapun besarnya hasratku untuk memperoleh cintanya, kasih-sayang-Mu lebih aku butuhkan… Ya Allah! Sehatkanlah aku. Betapapun pedihnya luka jiwaku, Engkau Maha Menyembuhkan. …”

Saat duduk akhir, kucondongkan jiwaku ke arah keseimbangan baru. Aku pun bersaksi bahwa meskipun si dia begitu indah, dia bukanlah Sang Mahaindah. Kurasa, dia itu hamba Allah yang dikirim oleh Sang Mahaindah untuk meneteskan secercah keindahan dari-Nya ke lubuk hatiku. Mungkin maksud-Nya supaya aku menjadi manusia baru, yang lebih elok daripada yang sudah-sudah.

Sebelum salam penutup shalat, aku bermunajat:

“Ya Allah! Seandainya mengingat-ingat si dia menjauhkan aku dari kebaikan, lenyapkanlah dari benakku segala kenangan tentang dia, betapapun manisnya. Namun, seandainya mengingat-ingat si dia mendekatkan aku dengan kebaikan, peliharalah di benakku segala kenangan tentang dia, betapapun pahitnya.”

Seusai munajat ini, aku merasa plong. Aku merasa kembali bahagia. Mungkin, lebih bahagia daripada yang sudah-sudah. Mungkin pula, lebih bahagia daripada yang belum-belum.

Buahnya Bukan Hanya Rasa Manis

Sekarang, aku masih senantiasa ingat kepada si dia. (Padahal, kini dia semakin jauh dari jangkauanku. Kini dia sudah bersuami, aku pun telah beristri.) Terasa pahit? Tidak sama sekali. Sebaliknyalah yang justru kurasakan. Rasa manisnya sulit kulukiskan dengan kata-kata.

Bahkan, buahnya bukan hanya rasa manis. Dalam karirku, she is my inspiration. Andai tak pernah ada rasa cinta di antara kami berdua, mungkin aku takkan menjadi penulis.***

14 thoughts on “14 – Salat Yang Pulihkan Luka Jiwa

  1. Assalamualikum wr.wbr.
    Sebuah kisah yang sangat memilukan namun memiliki makna yang sangat dalam
    terutama atas KebesaranNya…
    Terima Kasih Gani Ucapkan terutama terhadap penulis…
    Kisah ini sungguh sangat bermanfaat bagi Saya dan juga insan lainnya.
    kuJadikan ini sebagai pelajaranku tentang betapa besarnya makna dari Shalat..juga
    sebagai Obat penyembuh luka jiwa bagi diriku dan seseorang yang sangat aku sayangi(Isfa Acay – yang kebetulan memiliki kisah yang sama). dan juga kelak buat siapa saja..teman..tetangga..saudara..siapapun juga yang mengalami hal seperti ini…
    TERIMA KASIH….Wassalamualikum wr.wbr

  2. hebat.semoga say juga boleh begitu untuk melupakorang yang amat saya cintai..namun apakan daya kami tak ada keserasian…..

  3. Ping-balik: Cara Paling Efektif Menuju Kesuksesan « Manajemen Amal

  4. Ping-balik: Cara Menyulap Cerita Biasa Menjadi Kisah Dramatis « Dunia Penulis

  5. menyakitkan pak, memang pada awalnya..jika kita tau seseorang yang kita pernah lihat indah ternyata bukan untuk kita. menyakitkan lagi jika ternyata benak kita dipenuhi oleh begitu banyak kebaikan dalam dirinya..yang lagi2 bukan untuk kita.menyakitkan pula jika mengingat dirinya kita seperti kehilangan diri kita sendiri..

    menyakitkan pula jikalau pada akhirnya kita benar2 perlu menghapuskan seluruh jejaknya…

  6. Ping-balik: Sulap Cerita Jadi Menarik « Izmanyzz's Blog

  7. Ping-balik: Curhat: Telah berzina tapi putus hubungan cinta « Indonesia Hot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s