12 – Bangkit Menuju Kesuksesan Baru

Lahir pada tahun 1941 di Ottawa, sebuah kota besar di Kanada, Paul tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan dinamis. Selama masa awal 1950-an, nama Anka cukup populer di kota ini. Ia menjadi wartawan muda. Kemampuan menulisnya mencuri banyak perhatian. Namun, minatnya di dunia jurnalistik hanya sebentar. Ia beralih ke bidang lain yang lebih menarik perhatian remaja pada umumnya.

Dunia musik populer adalah impian Paul Anka sejak itu. Ia pun belajar bernyanyi dan memainkan piano, trompet, dan drum. Ia belajar dengan giat. “Aku seperti pecandu. Dan memang yang kuinginkan sejak kecil hanyalah menjadi seorang penyanyi. Tapi semua orang [di dekatku] menganggap aku gila,” ungkapnya.

Kayaknya, anggapan orang-orang itu masuk akal. Sudah sukses merintis karir di dunia jurnalistik, kok Paul malah pindah jalur ke bidang lain yang belum jelas prospek kesuksesannya.

Tapi, Paul ingin membungkam cibiran orang. Maka mulailah dia bernyanyi dan tampil di segala tempat yang umumnya padat penonton atau di acara pencari bakat. Pernah di satu kesempatan, saat masih ABG, ia mengikuti kontes menyanyi amatir dan menang. Nama Paul mulai bersinar.

Pada usia 14 tahun, ia mainkan pertunjukan profesional pertamanya di Ottawa Exhibition dan disambut dengan baik. Dia menjadi berita di radio lokal maupun surat kabar nasional.

Dengan penuh rasa percaya diri, berangkatlah Paul dari Ottawa, Kanada, menuju Amerika Serikat untuk mendatangi perusahaan rekaman. Satu demi satu perusahaan dia datangi. Banyak yang ia datangi, tapi dia selalu ditolak. Sampai akhirnya dia diterima di Modern Records yang berkantor di Culver City. Maka diluncurkanlah nyanyian Blau Wilde de Veest Fontain.

Namun, hasilnya di luar dugaan Paul. Nyanyian tersebut terjual sedikit sekali di Kanada dan tidak laku sama sekali di negara lain. “Kupikir hidupku sudah berakhir saat itu. Aku 15 tahun dan merasa gagal. Aku ingin bunuh diri,” tuturnya.

Di tengah keterpurukan, Paul berteman baik dengan seorang gadis tetangganya. Diana Ayoub namanya. Bersama teman-teman lain, mereka sering nongkrong bersama dan menjadi akrab satu sama lain.

Pada umur 16 tahun, Paul sudah jatuh cinta kepada Diana. Cinta setengah mati alias tergila-gila. Begitu gencar ia lakukan pendekatan. Walau sudah sering bertatap muka saat nongkrong bersama, dan sering ditegur oleh orangtua Diana, hampir setiap hari siang-malam Paul menelepon Diana.

Ia pun menulis sebuah lagu romantis berjudul “Diana” dan menyanyikannya di hadapan Diana sendiri:

I don’t care just what they say
‘cause forever I will pray.
You and I will be as free
as the birds up in the trees.
Oh, please stay by me, Diana.

Setelah sekitar setahun berjuang dengan gigih, akhirnya… Paul tetap bertepuk sebelah tangan. Keluarga Diana semakin tidak menyukai Paul, sedangkan Diana sendiri mendambakan pria yang lebih dewasa.

Maka pada umur 17 tahun, Paul tersandung dua ‘batu besar’ sekaligus: kegagalan menjalin hubungan cinta dengan gadis impiannya dan kegagalan merintis karir profesional selaku penyanyi rekaman.

***

Pada masa yang sesulit itu, mungkinkah Paul memperjuangkan kehidupan lain yang lebih baik? Padahal, Diana Ayoub ‘tiada duanya’, sedangkan menjadi selebritis di dunia musik adalah impian terbesarnya. Apa yang dapat dia lakukan?

Ternyata, Paul menerapkan resep sederhana, tapi jitu:

Perjuangkan kehidupan ‘lain’ yang ‘tidak jauh’ dari kehidupan terdahulu! Dengan kata lain, jadikan ‘batu sandungan’ sebagai ‘batu loncatan’!

Belakangan Paul menyadari, kebanyakan orang lebih menyukai tulisannya ketimbang aksi tarik suaranya. Sebab itu, ia putuskan untuk lebih memanfaatkan kemampuan menulisnya. Tapi, ia tidak kembali ke dunia jurnalistik. Ia pilih jalan tengah. Digabungkannya kemampuan menulisnya dengan dunia musik impiannya.

Lantas, walaupun tetap menjadi penyanyi, ia lebih berkonsentrasi menjalani profesi ‘baru’ selaku penulis lagu. Sumber inspirasinya (terutama pada masa awal karirnya yang baru ini) adalah pengalaman cintanya terhadap Diana!

Hasilnya, lagunya yang berjudul “Diana” menjadi hit dan mulai membesarkan namanya. Mulai umur 20-an, sampai sekarang di usia lebih dari 60 tahun, terkenallah dia sebagai penulis lagu yang andal. Banyak penyanyi dan grup musik besar dari empat generasi yang berbeda (di antaranya: Frank Sinatra, Elvis Presley, The Sex Pistols, dan Bon Jovi) menyanyikan lagu-lagunya dan menjadi hit-hit yang top banget. Di samping itu, ia pun menulis theme song untuk banyak film besar dan banyak acara televisi yang populer.

Akhirnya, di abad 20, kita tidak hanya mengenal The Beatles sebagai grup musik paling top. Kita pun tidak hanya mengenal Elvis Presley sebagai penyanyi paling top dan “Bohemian Rhapsody”-nya Queen sebagai lagu paling top. Di samping nama-nama tenar ini, kita juga mengenal Paul Anka sebagai penulis lagu yang paling top!

Prestasinya ini tentu takkan tercapai seandainya dulu dia cuma terpaku meratapi kegagalannya dalam merintis karir selaku penyanyi rekaman dan/atau dalam menjalin hubungan cinta dengan Diana. Prestasi besarnya tercapai karena dia bangkit dari keterpurukan menuju impian baru.

3 thoughts on “12 – Bangkit Menuju Kesuksesan Baru

  1. Ping-balik: Cara Paling Efektif Menuju Kesuksesan « Manajemen Amal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s