11 – Berjuang Hingga Titik Keringat Terakhir

Ponirah lahir pada tahun 1949, masa yang paling sulit dalam sejarah Republik Indonesia. Ia terlahir dari keluarga miskin. Jadinya, kehidupannya pada masa kanak-kanak itu sulit bin berat.

Masa kecilnya dilaluinya dengan sungguh amat sangat sederhana sekali. Sebagaimana hampir semua wong cilik pada masa itu, ia tidak pernah mengenal buku, pensil, apalagi bangku sekolah.

Dengan kesederhanaannya pula, Ponirah menutup lembaran masa lajangnya pada usia muda. Ia menikah dengan Suparjo, seorang buruh penggarap sawah lelaki pilihan orangtuanya. Konon, maksudnya, untuk meringankan beban orangtuanya.

Lenyapkah beban kesulitan hidup dengan pernikahan itu? Tidak. Sebagian beban kesulitan hidup orangtua Ponirah berpindah ke pundak Ponirah dan suaminya.

Dari pernikahan tersebut, empat anak beruntun lahir. Dari hari ke hari, mereka dibesarkan di rumah sewaan (di desa Tirtomartani, Kasihan, Bantul, Jogjakarta). Beban pun kian hari kian berat. Apalagi tidak setiap saat Suparjo dapat menggarap sawah.

Lantas, sementara Ponirah mengasuh empat anak kecil di rumah, Suparjo mengisi hari-hari kosongnya dengan mengayuh becak. Lumayan. Sejak itu, ada tambahan uang belanja.

Namun, Ponirah merasa, hidup semakin berat. Ia sadar, anak-anak semakin besar. Kebutuhan juga semakin bertambah. Ia merasa kasihan kepada anak-anak. Kasihan pula kepada suaminya yang sudah bekerja dengan sangat keras, tetapi kebutuhan rumah-tangga sehari-hari masih kurang terpenuhi.

Menyadari kenyataan itu, Ponirah tidak bersembunyi di balik dalih tawakal. Ia tak mau berpangku tangan. Diputuskannya untuk ikut bekerja mencari tambahan rezeki.

Tapi, kerja apa? Keterampilan tak punya, modal pun tiada. Maka, dengan menyisihkan sedikit uang belanja, dibelinya sebuah becak yang sangat sederhana, seperti milik suaminya. Dengan modal ini, Ponirah mengikuti jejak suaminya, menjadi pengayuh becak!

Sementara Suparjo mangkal di Jalan Raya Bantul-Jogjakarta, Ponirah memilih Pojok Benteng Kulon dan Istana Kadipaten, Jogjakarta. Tempat mangkalnya ini lumayan jauh dari rumahnya: sekitar 20 kilometer.

Ditambah dengan jarak tempuh ketika melayani penumpang, bayangkan betapa jauhnya Ponirah mengayuh becak setiap hari! Tentu pekerjaan ini sangat berat, apalagi bagi perempuan yang fisiknya tidak sekuat laki-laki.

Namun, ini bukan persoalan yang paling berat. Masalah mental bahkan lebih dahsyat. Ponirah menghadapi fitnah yang lebih kejam daripada pembunuhan.

Tak sedikit orang yang berkomentar tajam: “Kedoknya narik becak, tapi kalau diajak kencan di Pasar Kembang [tempat pelacuran], ya mau juga.” Demikian antara lain cemoohan yang berembus ke telinga Ponirah dan keluarganya. (Bayangkan jika kitalah yang terlanda fitnah sekeji itu. Apakah kita setegar Ponirah dalam menghadapinya?) Akibatnya, anak-anaknya pun mengaku sangat malu.

Apakah Ponirah tidak malu lantaran fitnah sekeji itu? Sebenarnya, ia pun mengaku malu. Tapi, rasa malu ini dia tanggung dalam hati. Dia bertawakal kepada Tuhannya. “Yang penting bagi saya, bekerja dengan sungguh-sungguh dan dapat uang dengan cara halal. Sebab, kalau anak-anak saya tidak bisa makan, apakah orang-orang yang mencemooh saya itu mau memberi makan anak-anak saya?” ungkap Ponirah kepada Liberty (Edisi 2245, 21-30 Septermber 2005).

Selama menjadi pengayuh becak, Ponirah masih menjalankan peran sebagai perempuan. Hal ini terlihat dari kelahiran anaknya yang kelima dan keenam. Hebatnya, selama hamil pun ia masih mengayuh becaknya. Hanya saja, ketika kehamilannya memasuki bulan ketujuh sampai kira-kira sebulan pasca persalinan, ia tidak menjalankan becaknya. Setelah itu, Ponirah menjalani lagi kehidupannya sehari-hari.

Biasanya, pukul sembilan malam, Ponirah sudah berangkat tidur. Pukul tiga dini hari, ia bangun dan melakukan sembahyang malam, lalu shalat shubuh. Sehabis itu, ia melakukan pekerjaan rumah-tangga sebagaimana lazimnya seorang ibu.

Pagi-pagi sekali, Ponirah sudah harus menanak nasi untuk sarapan anak-anak sebelum mereka berangkat ke sekolah. Sambil menanak, ia lakukan pekerjaan lain. Misalnya: mencuci baju dan menimba mengisi bak air di dapur. Setelah beres, barulah ia berangkat mengayuh becak.

Waktu demi waktu berlalu, kondisi keuangan rumah tangga Suparjo-Ponirah membaik seiring dengan membaiknya perekonomian nasional. Hasilnya, mereka mampu membeli rumah dan sepetak sawah dengan jerih-payah keringat mereka sendiri. Bahkan mereka sukses membiayai sekolah semua anaknya hingga tamat SMA, kecuali dua yang terbesar.

Dengan kesuksesan tersebut, perjuangan Ponirah selesailah sudah, eh… belum. Belum selesai!

Seiring dengan memburuknya kondisi perekonomian nasional pada akhir masa Orde Baru dan awal Era Reformasi, penghasilan Ponirah dan suaminya menurun. Mereka mengalami masa sulit lagi.

Kali ini, masalah lebih berat. Suaminya terserang kanker usus dan harus sering keluar-masuk rumah sakit. Di samping penghasilan merosot drastis, pengeluaran pun membengkak. Akibatnya, becaknya pun terpaksa dijual. Setelah sekian lama menderita, akhirnya suaminya meninggal dunia. Dengan begitu, Ponirah terhempas badai besar di masa sulit.

Namun, manusia tegar mampu bertahan dan meraih kesuksesan sejati. Ponirah tidak tenggelam dalam lautan keputus-asaan. Pada usia 56 tahun, ia masih bekerja mengayuh becak dan tak ingin berhenti selama masih mampu. Dia terus berjuang dengan gigih.

Mungkin lantaran kegigihannya dalam perjuangan hidup ini, Ponirah mendapat perhatian istimewa dari pihak civitas UGM (Universitas Gadjah Mada). Dari mereka, ia peroleh sebuah becak wisata yang bagus dan indah. Pemberian ini menunjukkan, ternyata UGM betul-betul menghargai keberadaan Ponirah. (Kalau sekedar kasihan, tentulah becak yang diberikan kepadanya tidak begitu indah.)

Dalam pandangan saya, penghargaan seperti itu memang pantas ditujukan kepada orang yang berjuang “hingga titik keringat terakhir” untuk melepaskan diri dari keterpurukan. Bagaimana dalam pandangan Anda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s