9 – Tegar di Tengah Penderitaan

Pada tanggal 6 Juni 1973, John Prunty bersama dengan lima orang pekerja konstruksi lainnya bekerja di atas atap sebuah rumah. Hari sedang panas dan gerah, sedangkan pekerjaannya memang sukar.

Saat berada di puncak atap, seorang rekannya memintanya membantu mengambilkan suatu perkakas. Dalam usahanya mengambil perkakas tersebut, John melangkah ke depan. Namun, sebatang balok penyangga tubuhnya tiba-tiba terlepas jatuh. Ia pun kehilangan keseimbangan.

Secara naluriah, John berusaha melompat, mengira dapat mengembalikan keseimbangan. Tapi terlambat. Ia melayang jatuh tanpa terkendali. Tubuhnya terhempas dengan kepala tepat di bawah. Kejatuhannya mengenaskan, sebagaimana yang kemudian ia ceritakan sendiri:

Saya masih saja bergidik saat teringat pada suara gemeretak tulang-tulang belakang yang menyakitkan ketika saling bertubrukan. Gerak jatuh tubuh saya, ditambah dengan bobot tubuh saya, menghunjamkan kepala saya ke dada saya. Seketika saya dapat merasakan, saya telah kehilangan perasaan terhadap kedua kaki.
Saya mendengar teriakan dari atas, “Hai! John jatuh!” Saya berusaha segera bangkit, tetapi sia-sia. Hanya kepala saja yang masih mematuhi perintah otak. Mengetahui ketidak-berdayaan ini, saya merasa sangat cemas, murka, dan putus asa.
Saya tidak merasakan sakit sama sekali sampai seseorang mengangkat sedikit kepala saya untuk menaruh sebuah bantal di bawahnya. Kemudian rasa nyeri begitu menusuk, sehingga saya memintanya menyingkirkan bantal itu.
Saya merasa seolah-olah kepala saya bergantung pada seutas benang tipis. Setiap kali memutarnya, walau sedikit saja, rasa nyeri kian terasa. Rasa-rasanya, benang tipis itu akan putus dan kepala saya akan terlepas. Namun bagaimanapun, saya berusaha tetap sadar.
Sebentar kemudian tim penolong tiba dan menaruh tandu di bawah tubuh saya. Saya takut sekali menggerakkan tubuh, karena rasa nyeri kini sudah amat menyengat. Tapi setelah berada di ambulan, saya mulai merasa agak lebih nyaman. Saya yakin, saya akan segera berada di tangan para ahli yang akan membereskan segalanya.
Di rumah sakit, ahli bedah syaraf yang menangani saya segera menempatkan saya di atas meja sinar-X. Ia lalu naik menggunakan tangan dan kakinya untuk menekan serta mengatur kepala saya agar dapat diperoleh sudut penyinaran yang tepat.
Walaupun pernah merasakan kesakitan sebelumnya, saya yakin, tidak ada yang separah ini. Sebentar kemudian, dokter memberikan penjelasan yang tidak menyenangkan: leher saya memang patah, antara tulang kelima dan keenam.

Lebih dari itu, John merasakan nyeri yang ‘berdengung’, yang kian terasa bila berusaha bergerak, walau sedikit saja. Sebaliknya, semakin diam berbaring, semakin sedikit nyeri yang terasa. Sayangnya, ketika rasa nyeri ini berkurang, kengerianlah yang ia rasakan. Sebab, disadarinya, ia telah mati-rasa, tidak bisa merasakan apa-apa sama sekali, dari leher ke bawah. Ia merasa seperti mumi yang terbaring di peti mati. Ngeri, kan?

Lebih ngeri lagi, setelah berminggu-minggu menjalani perawatan, didapatinya bahwa dia takkan sembuh. John telah menjadi seorang kuadraplegia, orang cacat yang lumpuh dari leher ke bawah seumur hidup!

Hah?! Rasa-rasanya berat sekali bagi kami untuk meneruskan kisah tersebut. Baru membayangkan saja, mata kami sudah basah oleh air mata. Kami membayangkan: Mungkinkah John mampu tegar menjalani hari-hari berikutnya dalam keadaan yang amat mengenaskan itu?

Ternyata, John memutuskan untuk tidak menyerah total. “Bila saya harus hidup di atas kursi roda listrik untuk selama-lamanya, saya hanya perlu tersenyum atau mengedipkan mata kepada anak-anak yang memandang saya dengan mata lebar di pasar swalayan.”

Namun, akhirnya, John melakukan lebih dari sekadar tersenyum atau mengedipkan mata kepada anak-anak. Ia tidak sekedar tegar menanggung penderitaan. Lebih dari itu, kini dia sukses berwiraswasta dengan menyediakan pelayanan pramubayi (baby sitter).

Begitulah. John sukses bangkit dari keterpurukan karena menghargai kemampuan diri dalam menanggung penderitaan dengan cara tegar. Bagaimana dengan kita?

Sebetulnya, kita pun memiliki kemampuan menanggung penderitaan. Di Al-Qur’an disebutkan, Tuhan takkan membebani manusia melebihi kemampuannya (QS al-Baqarah [2]: 286). Dia pun telah menciptakan mekanisme tubuh kita sedemikian rupa, sehingga ketika diri kita tak mampu menanggung penderitaan, kita menjadi pingsan atau kehilangan kesadaran. Selama tidak kehilangan kesadaran, itu pertanda kita masih dipercaya Tuhan bahwa kita mampu menanggung penderitaan yang Dia ujikan kepada kita.

One thought on “9 – Tegar di Tengah Penderitaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s