7 – Tenangkan Gejolak Jiwa Secara Sehat

Sebagian orang, kendati religius, ternyata kurang mampu menenangkan gejolak jiwa kita. Mereka malah merasa terganggu bila kita ungkapkan emosi negatif yang kita rasakan. Telinga mereka tertutup rapat-rapat. Mereka justru membuka mulut lebar-lebar dengan menggurui bagaimana seharusnya perasaan kita, apa yang harus kita perbuat, dan bagaimana melakukannya. Mereka mengabaikan terlukanya perasaan kita.

Kalau kita curhat kepada para pengabai perasaan itu, bisa-bisa jiwa kita yang sedang terluka malah menjadi semakin lemah. Ibaratnya, otot kaki telah terkilir dan belum terobati kok malah disuruh berlari terus mendaki gunung dan dilarang berhenti sebelum sampai di puncak. Makin parah, bukan?

Supaya luka hati kita menjadi sembuh dan tidak makin parah, lebih baik kita curhat kepada para pemerhati perasaan. Mereka ialah orang-orang yang memperhatikan perasaan kita, memaklumi luka hati, membuka telinga lebar-lebar guna mendengar keluh-kesah kita, menyayangi kita, menerima kita apa adanya, dan tidak menghakimi kita.

Para pemerhati-perasaan yang memaklumi kita itu sungguh penting untuk pemulihan jiwa kita. Sebab, bila luka hati kita dimaklumi, maka kita menjadi lebih tenang, sehingga lebih mempermudah pemulihan diri. Persis seperti pasien yang lebih tenang memeriksakan retaknya tulang kakinya apabila dokternya memaklumi rasa sakitnya, “Sakit sekali, ya?”

Lain halnya jika dokternya malah meremehkan, “Alaaah, gitu aja kok mengerang-ngerang kayak anak kecil. Ini kan cuma retak. Belum patah, apalagi putus.” Bayangin, pasien mana nggak makin meringis kesakitan dengan perasaan yang kian bergejolak kalau disepelekan begitu.

Oleh sebab itu, bila kita hendak curhat untuk menenangkan gejolak jiwa, perlu kita kenali siapa pengabai dan siapa pemerhati perasaan.

Untuk mengenali perbedaan antara pengabai dan pemerhati perasaan, amatilah pola kata-kata yang mereka gunakan. Pengabai perasaan umumnya gemar menyampaikan saran berupa perintah atau larangan keras dan berkomentar dengan kata-kata negatif (“jangan”, “tidak”, dsb.). Sebaliknya, saran atau komentar dari pemerhati perasaan biasanya lembut, memakai kata-kata positif (“silakan”, “oke”, dsb.).

Contoh Komentar Negatif:

Alaaah, baru begitu saja sudah mengeluh. Jangan membesar-besarkan masalah! Banyak orang lebih sengsara daripada dirimu dan mereka tidak mengeluh.
Jangan takut! Kalau tidak berani ambil risiko, pasti kau takkan maju.

Contoh Komentar Positif:

Kisah nyatamu menyentuh hatiku. Kurasa, pengalamanmu lebih pahit daripada yang pernah kualami. Aku salut, kau lebih mampu menceritakan pengalaman pahit diri sendiri daripada aku.
Hati-hati melangkah, ya! Dengan berhati-hati, insya’ Allah selamatlah kau dari segala risiko, sehingga sampai di tempat tujuan dalam keadaan yang sebaik-baiknya.

Bagaimana? Anda bisa merasakan, komentar positif dari pemerhati perasaan itu lebih elok, bukan?

5 thoughts on “7 – Tenangkan Gejolak Jiwa Secara Sehat

  1. Shodiq,

    Kata-kata yg disampaikan begitu mendalam maksudnya. Memberi inspirasi & panduan yg berguna. Terima kasih…

    Kamu bebicara umpama seorang insan yg melalui setiap perkara yg kamu luahkan. Saya suka akan isi & moga ia bisa berguna untuk dijadikan panduan.

    Ketemu lagi,

  2. Ping-balik: Manfaatkan Momentum Puasa sebagai Kunci Kesuksesan « Ikhtiar Islami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s