6 – Lepaskan Emosi Negatif Secara Positif

Apa yang kita lakukan ketika merasakan kekecewaan yang mendalam? Marilah kita introspeksi, memeriksa diri sendiri.

Membenturkan kepala ke dinding? Kasihan dindingnya. Hehehe…

Mengobrak-abrik segala barang? Membanting piring, gelas, atau barang pecah-belah lainnya? Kasihan ruangannya, barangnya, lantainya… Hehehe juga.

Menganiaya makhluk lain yang tak berdaya? Aduuuh… Apakah kita mau demo unjuk kekuatan?

Bila mau unjuk kekuatan, tunjukkan kemampuan menaklukkan hawa-nafsu! Ini baru betul-betul perkasa.

Kalau cuma mengalahkan dinding, barang pecah-belah, dan makhluk lain yang tak berdaya, itu sih keciiil. Anak kecil pun mampu melakukannya.

Bagaimana jika memusuhi dan membalas dendam? Hmm… Yang kita musuhi tentu akan membalas kita, lalu terjadilah saling balas terus-menerus sampai mampus. Hasilnya, rugi bin sial bin rugi bin sial bin …. Rugi bertubi-tubi.

Ketimbang rugi bertubi-tubi, mendingan kita manfaatkan cara lain yang nggak merugikan.

Mengingat-ingat kesalahan orang? Kita salahkan seseorang atas peristiwa kehilangan ini?

Menyalahkan orang dan mengingat-ingat kesalahannya memang gampang. Tapi, ini malah membuat emosi kita kian membara. Bagai menyiram api dengan minyak. Membuat luka baru di atas luka lama. Rugi bin sial juga, dong!

Memang sih, kita berhak merasa kecewa dan marah kepada orang yang bersalah. Namun, perlu kita perhatikan, menyalah-nyalahkan orang tidaklah melepaskan jiwa kita dari kerugian dan kesialan. Makanya, mendingan kita pertimbangkan cara lain.

Untuk itu, kita bisa belajar dari pengalaman Cheryl Myers. Di bawah ini, kita saksikan bagaimana dia mengekspresikan rasa kecewa dan marah lantaran di-PHK.

Cheryl memang marah. Dia tidak yakin siapa yang menjadi sasaran kemarahannya —atasannya [yang mem-PHK dia] ataukah dirinya sendiri.
Sewaktu dia teringat perlakuan atasannya, Terri Keating, murkalah dia.
Cheryl menilai, Terri sering licik. Dia selalu mencela pekerjaan Cheryl dan membesar-besarkan masalah. Namun, Terri melakukannya saat tidak ada orang lain. Dengan demikian, Cheryl tidak bisa mengatakan kepada siapa pun bahwa dia selalu dicela, sebab tidak ada bukti.
Di samping menyalahkan Terri, Cheryl juga menyalahkan diri sendiri. “Seandainya aku bekerja lebih keras, tentu aku tidak di-PHK.”
Namun kemudian, Cheryl menyadari, hidup adalah menghadapi situasi dan orang-orang yang tidak menyenangkan. Hanya dengan menghadapi itu semua, kita berkesempatan untuk menjadi lebih baik. Mungkin PHK tersebut memang seharusnya terjadi agar dia bisa memetik hikmah yang terkandung di dalamnya…
Setelah jelas dalam pikirannya bahwa terjadinya PHK tersebut bukanlah lantaran kesalahannya semata-mata, dia menulis sepucuk surat kepada Terri —tapi tidak dikirim. Surat ini memang hanya untuk ditulis, bukan untuk dikirim. Di surat ini, Cheryl menuliskan pikirannya tentang Terri dan tentang apa yang terjadi.
Saat Cheryl menuliskan semuanya di selembar kertas, dia merasakan berbagai macam perasaan yang menyakitkan —terluka, sedih, dan murka. Namun, dia tidak lagi merasa bersalah, dan ini melegakan.
Akhirnya, Cheryl menulis sepucuk surat lagi kepada Terri yang juga tidak dikirimkannya. Dinyatakannya bahwa dia memaafkan Terri. Dia tahu, dia hanya menyakiti diri sendiri apabila terus-menerus merasakan kekecewaan tersebut.

Dari pengalaman Cheryl tersebut, bisa kita petik pelajaran bahwa mengungkap perasaan yang mendalam lewat tulisan bisa menjauhkan kita dari rasa terluka. Ini selaras dengan pernyataan James W. Pennebaker yang dikutip Hernowo dalam buku Quantum Writing. Dia mengatakan, menuliskan emosi negatif akan membangkitkan rasa puas dan lega, sehingga melepaskan kita dari rasa hampa atau pun kecewa. (Alhamdulillaah, kita jadi mulai lega, deh.)

Kalau kita sudah mulai merasa lega, sebaiknya kita menulis surat yang tidak sekedar ditulis, tetapi juga dikirimkan kepada yang bersangkutan. Memberitahukan kerelaan kita dalam menerima keberadaan orang yang kita anggap pernah melukai perasaan kita bisa mengurangi lagi beban yang masih tersisa di hati kita. (Alhamdulillaah, jadi tambah lega, deh.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s