5 – Akui Terlukanya Perasaan Kehilangan

Apa sajakah yang Anda rasakan ketika kehilangan sesuatu yang Anda anggap berharga, entah itu pekerjaan entah orang yang Anda kasihi? Mungkin, yang Anda rasakan lebih dari sekedar kehilangan atas pekerjaan atau orang yang Anda kasihi itu. Boleh jadi, Anda pun kehilangan rasa percaya-diri, jaminan tidak kesepian, jaminan finansial, impian masa depan, dan masih banyak lagi.

Menumpuknya rasa kehilangan tersebut tentu berdampak besar. Bagai terlanda gempa, badai, dan banjir dalam waktu bersamaan. Satu bencana saja sudah menyulitkan, apalagi beberapa musibah sekaligus. Wajarlah apabila jiwa Anda terguncang.

Yang kurang wajar, bila guncangan dahsyat itu kita remehkan. Menipu diri. Seolah berhati baja, kita coba taklukkan ‘badai Tsunami’ di masa sulit. Bagai Superman, kita “biarkan semuanya berlalu”, “lupakan segala yang telah lalu”, atau pun sikap-sikap lain yang mengabaikan terlukanya perasaan kehilangan. Padahal, jika kita sepelekan guncangan ini, maka efek sampingnya berbahaya. Bukan hanya berbahaya, melainkan juga berlangsung lama, dan kian lama kian mencelakakan.

Menyangkal terlukanya perasaan kehilangan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Penyangkalan ini juga mempercepat pelemahan otak. Dengan kata lain, orang yang suka menyangkal kenyataan itu cenderung bodoh dan lebih cepat pikun.

Mengapa? Sebab, dia membiasakan diri melupakan hal-hal yang menyakitkan hati. Dengan kebiasaan ini, ia pun membiasakan otak untuk melupakan banyak hal. Bila otak sudah dibiasakan untuk lupa, maka hal-hal yang tidak pahit pun menjadi gampang terlupakan pula. Ini sebabnya, penyangkal kenyataan itu cenderung bodoh dan lebih cepat pikun.

Apakah menerima perasaan yang terluka itu berarti berkubang dalam perasaan mengasihani diri, memelihara rasa dendam, dan merutuki nasib? Bukan!

Kita cuma mengakui, kita adalah manusia biasa yang bisa terluka oleh rasa kehilangan. Iya, kan? Jangankan kita; nabi-nabi yang ‘luar biasa’ pun tidak segan-segan mengakui luka-luka hatinya, terutama di hadapan Tuhan.

Contohnya, ketika kehilangan harta dan keluarga, lalu menderita sakit dari ujung rambut kepala ke ujung kaki, Nabi Ayyub mengaku kepada Tuhan: “Sungguh aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan… Sungguh aku ditimpa penyakit, sedangkan Engkau adalah Yang Paling Penyayang di antara semua penyayang.” (QS Shad [38]: 41; al-Anbiya’ [21]: 83)

Dengan pengakuan jujur mengenai rasa sakit dan tersiksa itu, apakah Nabi Ayyub menjadi kurang sabar hingga merendahkan martabatnya? Tidak! Tuhan justru berfirman, “Sesungguhnya Kami dapati dia [Ayyub] orang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba [Tuhannya].” (QS Shad [38]: 44)

Tuuuh… Mengakui rasa sakit dan tersiksa malah membuka kesempatan untuk menjadi sebaik-baik hamba Tuhan. Makanya, ngaku aja, deh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s