3 – Selamat Tinggal, Angan-Angan Hampa!

Ketika kita masih mendengkur sejak bedug magrib bertalu-talu hingga kokok ayam bersahut-sahutan, bulan tidak tidur. Dia terus menari berputar mengelilingi bumi… Ketika kita masih berselimut rapat dari ujung rambut ke ujung kaki, bumi tidak berbaring di atas ranjang. Dia terus berlari memutari matahari… Itu di luar sana.

Di dalam sini, jantung orang tidur yang berdegup lemah masih memompakan darah. Mengalir segar berirama ke seluruh tubuh. Dari pembuluh ke pembuluh. Lalu kembali ke bilik pemompa. Terus mengalir berirama… Di dalam sini, sementara sekujur tubuh terus mendengkur, otot-otot di balik kulit tak kuat tidur. Kewalahan mengiringi irama aliran darah. Maka gerombolan otot pun mengeluhlah, “Hai Otak! Kami capek, nih. Pegel-pegel. Suruh, dong, si tubuh bangkit.”

Untuk contoh, mari kita simak kisah Iwan Patriawan (bukan nama sebenarnya). Seusai terkena PHK, ia tampak tidur terus-terusan.

Setelah letih tidur melulu, otak Iwan Patriawan menerima keluh-kesah dari gerombolan ototnya. “Capek, nih.” Lalu keluhan ini disampaikan si otak ke seluruh tubuh, “Bangun! Ayo bangun!” Maka bangkitlah badan Iwan dari atas ranjang setelah sebulan berbaring terus-terusan.

Karena masih ogah-ogahan, iseng-iseng Iwan mencomot sejilid buku dari almari. Rupanya, novel pertama Dewi “Dee” Lestari, Supernova. Lalu Iwan beranjak ke kamar sebelah. Duduk manis di kursi panjang.

Iwan membuka-buka Supernova lembar demi lembar. Asal-asalan. Sampai di satu halaman, terpakulah mata Iwan pada satu keping perasaan Dee. Kebetulan, keping nomor 7, “Bintang Jatuh”.

“Akankah,” pikir Iwan, “bintang jatuh di depanku, lalu impianku jadi kenyataan?” Dengan pikiran ini, disematkannya keping nomor 7 itu ke hatinya:

Radio RRI—berita—harga sayur-mayur.
Cabe keriting merangkak naik. Disusul merosotnya bawang merah. Kentang meluncur drastis. Kol membanjiri pasar. Terung menjadi primadona. Jahe dengan stabil berjalan meniti tali harga.
Sirkus komoditas.
Padahal, di dalam tanah sana, semua berjalan tanpa gejolak yang dibuat-buat. Tomat tak pernah keberatan buahnya dihuni ulat, juga tak berbuat apa-apa bila dilekati pestisida. Ia rela mati, untuk hidup kembali. Sementara petani bertahan mati-matian untuk hidup.

Gdubrak! Iwan merasa disentil. “Astaghfirullah,” serunya dalam hati. “Mereka terus bertahan mati-matian untuk hidup. Sedangkan aku, asal-asalan hidup untuk menunggu kedatangan sang ajal. Hidup untuk mati. Terbalik, dong. Harusnya, mati untuk hidup. Tapi, selama ini, aku tidur-tiduran melulu. Kemampuanku untuk bangun dan bergerak-gerik malah kugunakan untuk menjatuhkan diri di atas ranjang. Bangun untuk jatuh. Terbalik, dong. Harusnya, jatuh untuk bangun.”

Apa maksudnya? Kok ruwet begitu, sih? Jadinya, kami sukar memahaminya. Untungnya, Iwan kemudian menjelaskan:

Kita kelak mati adalah untuk menjalani hidup yang hakiki di akhirat. Sekarang, kita jatuh terpuruk di masa kini adalah untuk membangun surga di masa depan. Surga dunia-akhirat!

Ooo… membangun masa depan. Dari mana mulainya, ya?

“O, my God,” seru Iwan. “Membaca buku bermutu lebih asyik ketimbang tidur-tiduran melulu. Dari sini aku dapat mulai membangun masa depan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s