2 – Pedihnya Terhempas Badai di Masa Sulit

Hidup memang sulit. Sebab, “manusia diciptakan [dengan kodrat] lemah” (QS an-Nisa’ [4]: 28). Bukan hanya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan krisis keuangan yang bisa menghempaskan kita dari puncak gunung ke dasar lembah. Saat hubungan cinta terputus, seperti Majnun yang ditinggal mati kekasihnya, ini pun menyulitkan. Bila terkurung di dalam kota yang sedang dikepung pasukan musuh, seperti kaum muslimin di Madinah pada tahun 5 Hijriyah, itu pun sulit sekali.

Dapatkah Anda merasakan sesulit apakah kaum muslimin ketika itu? Bayangkan! Mereka terkurung oleh pengepungan pasukan sekutu (Quraisy dan beberapa kabilah lain) sejumlah empat kali lipat lebih banyak daripada mereka. Sampai dua minggu, belum tampak tanda-tanda kapan berakhirnya masa sulit ini.

Padahal, selama masa sulit tersebut, kaum muslimin yang terisolir di dalam kota itu menderita kelaparan dan kedinginan. Dari hari ke hari kian memprihatinkan.

Repotnya lagi, bahaya mengintai di mana-mana. Setiap keluar rumah untuk mencari makanan dan penghangat tubuh atau pun keperluan lain, ribuan anak panah siap menghujani mereka. Hujan panah datang dari segala penjuru: atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang. Penglihatan mereka sampai kacau-balau. Hati mereka pun “menyesak sampai ke tenggorokan”, sampai-sampai “menyangka yang bukan-bukan tentang Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 10)

Mengapa Allah menjadikan banyak orang, hamba-hamba-Nya, mengalami masa sulit sampai kepayahan? Menderita sesak dada sampai ke tenggorokan? Bukankah Dia Maha Pengasih? Maha Penyayang? Ternyata, penderitaan itu adalah jalan menuju kejayaan.

Contohnya: Tanah sawah diluku lebih dulu dengan bajak yang tajam. Setelah itu, barulah tumbuh subur tanaman padi. Selepas emas dibakar, barulah menjadi gelang, kalung, dan aneka perhiasan indah lainnya. Seusai pil kina yang amat pahit diminum, barulah sembuh penyakit malaria. Tubuh kita perlu disuntik berbagai vaksin (bibit penyakit yang sudah dilemahkan), sehingga tubuh kita terbiasa melawan bibit penyakit. Sesudah itu, barulah kita selamat dari penyakit-penyakit tersebut untuk selama-lamanya.

Begitu pula keadaan kaum muslimin di Madinah pada tahun 5 Hijriyah. Selama hampir satu bulan, mereka terkurung dalam pengepungan pasukan sekutu yang berkekuatan empat kali lipat. Sehabis menanggung penderitaan ini, harumlah nama kaum muslimin ke seantero jazirah Arabia. Lalu, berbondong-bondonglah orang dari segenap penjuru mengucap syahadat, memeluk agama yang dibawa Nabi Muhammad. Hanya dalam waktu beberapa tahun saja sejak berakhirnya pengepungan tersebut, Islam sudah berjaya di seluruh jazirah Arabia.

Kita pun dapat pula berjaya, selepas dari empasan badai di masa sulit. Namun, tentu saja, tidak semua kepedihan yang kita derita menghasilkan kejayaan.

Bila di masa sulit ini kita menyerah total, maka mustahil kita berjaya. Kesuksesan pun bakal menjauhi kita jika kita ‘lari dari masa sulit’. Bagaimana mungkin rezeki menghujani kita dari langit apabila kita bertopang dagu atau tidur melulu.

Agar kita berjaya memanen padi, misalnya, maka belum cukuplah meluku tanah kita dengan bajak tajam. Seusai pembajakan, haruslah kita tanami lahan ini dengan bibit padi. Lalu, kita memupuki dan mengairinya. Begitu pula jika kita memang ingin ‘bertabur perhiasan emas’.

Supaya berjaya, maka unsur ‘emas’ pada diri kita yang sudah ditempa oleh penderitaan di masa sulit ini haruslah kita proses lebih lanjut.

2 thoughts on “2 – Pedihnya Terhempas Badai di Masa Sulit

  1. Ping-balik: 1 - Selamat Datang, Badai Kehidupan! « Ayo Sukses!

  2. Ping-balik: Cara Paling Efektif Menuju Kesuksesan « Manajemen Amal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s