Aku senang mencintaimu (dengan bagaimanakah?)

Dengan bagaimanakah aku senang mencintaimu? Dengan sederhanakah? Oh, tidak. Cinta itu penuh dengan misteri. Bila mencintai dengan sederhana, ke manakah cinta kita akan menuju? Kepada kehampaankah? Ogah, ah!

Aku senang mencintaimu dengan terarah:
dengan sehembus bayu yang dideburkan
Ar-Rahim kepada segumpal darah
yang menjadikannya manusia.

Aku senang mencintaimu dengan tertata:
dengan selaksa aroma yang didesirkan
lebah pengolah buah di hening sarang
yang menjadikannya pencinta.

Begitulah puisi Aisha Chuang dalam Nikmatnya Asmara Islami. Puisi tersebut dimaksudkan sebagai “jawaban” atau “sudut pandang yang lain” terhadap puisi karya Sapardi Djoko Damono, “Aku Ingin”:

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Dalam segi bahasa penyampaian pesan, mungkin puisi Sapardi Djoko Damono ini lebih indah (dan tentu lebih orisinal). Namun dalam segi makna yang terkandung di dalamnya, aku lebih suka puisi Aisha Chuang di atas. Sebab, aku lebih senang menggunakan sudut pandang yang positif daripada negatif. Inilah sebabnya mengapa aku lebih suka memandang cinta sejati sebagai madu yang dihasilkan oleh lebah pengolah buah daripada sebagai abu kayu yang terbakar oleh api.

10 thoughts on “Aku senang mencintaimu (dengan bagaimanakah?)

  1. aduh, blog gak mutu…isinya banyak bertentangan ma Al Quran n Hadist…
    ya Allah, ampunilah orang yang telah membantah perkataanMu ini….

    …hati2 laknat Allah…

    yang haram kok dikasi label islami??
    qiyasnya sama dengan nyembelih babi pake bismillah, tetap aja haram wahai tua bangka!!!

    punya otak gak sihh, gw aja yang awam, naatin perintah!! malah yang berilmu dibutakan ma ALLAH!! kasian banget loe

  2. wah…mank blog ini bgus ya isinya. tapi ada yang ngganjel di hati.
    apa dalil2nya sesuai sma al-qur,an dan hadist. perlu ditinjau lagi tuchh

  3. Puisi supardi jdoko pramono lebih dewasa menurut saya, n bgtlah cinta tak mengenal label agama n nama tuhan dia tetap cinta n berjalan seperti fitrah n sunahNya
    Anda yg lebih tau tentang tuhan harusny lebih mengenal tuhan n manifestasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s