Monyet itu saudaraku; jangan pandang hina!

Tak jarang aku merasa sedih di tengah-tengah kegembiraan orang-orang. Salah satunya adalah ketika menjumpai gurauan atau pun lawakan yang memandang hina seseorang yang wajahnya dianggap mirip monyet. Mereka tertawa-tawa, tetapi hatiku menangis. Hatiku pun menjerit. Aku marah, tetapi apalah dayaku selain menuangkannya lewat tulisan seperti ini?

Begini, kawan, tulisanku ini terinspirasi oleh suatu diskusi di situs shodiq.com ini pada beberapa hari belakangan ini, yaitu mengenai teori evolusi. Seorang pengunjung menyangka bahwa aku mendukung teori evolusi. (Padahal yang benar, aku bersikap netral.) Terhadap artikelku “Jangan percayai teori evolusi, tapi…“, ia berkomentar:

klo manusia, monyet, dan primata lainnya diturunkan dari nenek moyang yang sama berarti anda bersaudara dengan monyet dan primata lainnya..

Kuperhatikan, dia menggunakan kata “anda bersaudara dengan monyet”, bukan “kita bersaudara dengan monyet”. Aku tak tahu mengapa dia berkata begitu. Mudah-mudahan dia berkata begitu bukan karena menganggap monyet itu pasti lebih hina daripada manusia.

Terhadap komentar itu, aku sampaikan tanggapan sebagai berikut:

Aku bersaudara dengan debu. Sebab, kami sama-sama berasal dari tanah.
Aku tak tahu monyet itu berasal dari apa. Kalau berasal dari tanah juga, maka monyet pun saudaraku juga. (Kalau bukan dari tanah, lalu dari apa?) Bagaimanapun, aku tidak merasa lebih mulia daripada monyet, apalagi hanya karena asal-usulnya. Sebab, hanya iblis dan pengikutnya sajalah yang merasa lebih mulia daripada makhluk lain hanya karena asal-usulnya.

Kalau pun monyet itu bukan berasal dari tanah, aku pun masih menganggap mereka itu saudaraku, saudara sesama makhluk hidup di muka bumi. Namun, bukan sekadar rasa persaudaraan ini yang membuat hatiku terluka manakala orang-orang memandang hina monyet.

Bagiku, memandang hina monyet itu berarti memandang hina penciptanya. Demikian pula orang-orang yang menertawakan orang lain yang wajahnya dianggap mirip monyet. Mereka memandang hina Sang Maha Pencipta. Inilah yang membuat hatiku terluka. Tuhanku dipandang hina, bagaimana tidak sedih?

Demikianlah sedikit cerita dan curhat dariku. Kini sampailah kita pada penilaian, manakah yang lebih hina antara manusia dan monyet.

Marilah kita lakukan penilaian berdasarkan firman-firman Sang Maha Pencipta.

Mungkin ada banyak di antara kita yang telah membaca ayat ini:

Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam dan kami angkat mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rizki yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan. (QS al-Israa’ [17]: 70)

Mungkin dengan berdasarkan ayat tersebut, ada banyak orang yang merasa dirinya pasti lebih mulia daripada segala makhluk lain. Mereka kurang memperhatikan bahwa ada ayat-ayat lain seperti berikut ini:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, [tetapi] kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya [yaitu neraka], kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…. (QS at-Tiin [95]: 5-6)

Berdasarkan ayat itulah (dan beberapa ayat lain seperti QS 98: 6-7), aku menilai bahwa pada umumnya, manusia itu sesungguhnya lebih hina daripada monyet dan makhluk-makhluk lainnya, kecuali yang beriman dan beramal saleh.

Bagaimana dengan orang-orang yang memandang hina monyet? Apakah mereka tergolong beriman dan beramal saleh? Yang pasti, memandang hina itu tentulah bukan tergolong amal saleh. Sedangkan keimanannya pun patut diragukan karena mereka kurang mengimani ayat 95:5-6 (dan ayat-ayat lain yang senada dengan itu). Kalau begitu, bukankah mereka yang memandang hina monyet itu sebetulnya justru lebih hina daripada yang mereka pandang hina?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s