Bila istriku sudah memuakkan bagi diriku

Kebersamaan dgnnya hanya membuahkan kejengkelan, sentuhannya membuatku terusik dan terganggu, tak satupun aku simpati melihat keluarganya, tingkahnya menghasilkan rasa muak buatku, masakannya tidak terasa enak buatku, aku berada dirumah hanya demi sikecil yg msh berumur 6 bulan, sudah tak ada niat menjaga kelangsungan rmh tangga ini, tapi tak kuasa berpisah dengan sikecil, setiap hari dia sakit hati krn tdk kuhiraukan, stp hr kuberdosa krn tak mengacuhkannya, jika bpk adlh saya, apa lngkh yg bpk ambil ?

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Bila aku berada dalam posisimu itu, maka amal utama yang aku lakukan adalah menghitung seberapa banyak nikmat yang Allah karuniakan kepadaku.

Perihal anak itu, misalnya. Alhamdulillah, dia sehat dan berkecukupan. Sementara di luar sana… ada banyak anak-anak yang kelaparan dan kekurangan gizi, bahkan tak sedikit yang cacat. Alhamdulillah, anakku kelak bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang bermutu, sementara di luar sana… ada banyak anak yang terpaksa drop out dan bekerja supaya bisa hidup. Alhamdulillah, dia dibesarkan di bawah kasih sayang bapak dan ibunya, juga keluarga bapak dan ibunya. Sementara di luar sana, ada banyak anak tak berbapak dan tak beribu. Ada pula banyak anak yang dibuang di tempat sampah atau pun di jalanan, mereka tumbuh tanpa kasih sayang dari bapak dan ibunya. Alhamdulillah, anakku menyayangi diriku. Sementara di luar sana, ada banyak anak yang membenci orangtuanya. Alhamdulillaah…. dan masih banyak lagi yang lainnya.

Itu baru dari segi anak. Belum lagi dari segi rumah tempat tinggal kami, lalu karirku, kesehatanku, mataku yang dapat menikmati keindahan pemandangan, telingaku yang dapat menikmati musik merdu, lidahku yang dapat menikmati lezatnya makanan dan minuman, lalu besarnya peluang mengakses informasi melalui internet, juga bagaimana aku disayang istriku, sahabatku, familiku, … dan masih banyak lagi yang lainnya.

Seraya menghitung-hitung kenikmatan itu, aku takkan mengutuk “kegelapan”. Aku lebih suka menyalakan “sinar”. Aku menyinari dengan “cinta”.

Sebab, cinta bukanlah tertusuk panah cupid. Cinta adalah kemauan. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Aku mau mencintai, tak peduli apakah orang yang kucintai membalas mencintaiku ataukah tidak. Sebab, dengan mencintai secara tuluslah aku merasa hidup, merasa ada. Dengan merasa ada, aku pun merasa bahagia.

Aku senang mencintainya dengan terarah:
dengan sehembus bayu yang dideburkan
Ar-Rahim kepada segumpal darah
yang menjadikannya manusia.

Aku senang mencintainya dengan tertata:
dengan selaksa aroma yang didesirkan
lebah pengolah buah di hening sarang
yang menjadikannya pencinta.

Aku mau mencintai, karena dengan cintaku inilah aku akan hidup abadi, hidup yang benar-benar hidup, yakni hidup di akhirat kelak. Segala perilaku istriku atau siapapun yang mungkin menjengkelkan diriku itu hanyalah soal kecil. Toh aku mengalaminya selama beberapa dekade saja, takkan sampai ratusan atau ribuan tahun. Itu tak ada artinya bila dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi yang Allah janjikan kelak di akhirat selama lebih dari jutaan tahun, lebih dari milyaran tahun, lebih dari angka yang dapat aku bayangkan. Sebab, kita hidup di akhirat selama-lamanya.

Oleh karena itu, aku utamakan orang-orang terdekatku, khususnya anak dan istriku, sebagai ladang amal bagiku. Mereka tidak pernah menolak amalku yang aku lakukan terhadap mereka. Bahkan, mereka dengan sukacita menerima amalku. Ini membuatku lebih bersemangat untuk beramal dalam rangka menambah bekal kehidupan di akhirat kelak. Siapa tahu, amalku masih teramat kecil/sedikit untuk mengetuk pintu surga. Belum ada jaminan bahwa aku akan masuk surga kelak. Kalau aku enggan memanfaatkan ladang amal yang terbentang lebar ini, tidak malukah aku berdoa memohon surga kepada Sang Maha Pencinta?

Wahai… Sesungguhnya, kita semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya lah kita akan kembali.

7 thoughts on “Bila istriku sudah memuakkan bagi diriku

  1. Sebenci itukah kepada istri? Apakah karena istri telah melakukan pelanggaran dan penghinaan yang begitu berat terhadap syariat?

    ‘Aisyah Ummul Mu`minin pernah mengatakan : “Rasulullah tidak pernah marah bila hak-hak dirinya tidak dihargai orang. Namun bila hak-hak islam yang dihinakan, maka tidak terhinggalah marah beliau.”

    Jadi, karena apakah sentuhan istri begitu mengganggu? Tidak ada cinta lagi? Kenapa? Cinta itu anugerah ketika kita berusaha mendekat. Abu Hurairah menyampaikan hadits bahwa Tuhan berfirman : “HambaKU terus mendekat kepadaKU dengan amal-amal wajib. Dan ia terus mendekat dengan amal-amal tambahan (nawafil). Hingga ia mencintaiKU, dan Aku pun mencintainya.”

    Bila cinta Tuhan Yang Maha Kasih diraih dengan pendekatan wajib dan nawafil. Maka cinta istri Yang Tidak Maha Kasih jauh lebih pantas untuk diraih dengan pendekatan semacam itu. (jangan dekati istri melalui yang wajib-wajib. Coba dengan meluaskan yang nawafil-nawafilnya!).

  2. Pertama sekali,,kenapa anda bisa sebegitu membenci istri anda???
    tidakkah pernah anda melihat apa yg telah istri anda berikan kepada anda???
    Sebagai seorng suami anda wajib membimbing dan mengarahkan istri anda kepada hal2 yang benar tentunya,,
    dan apakah anda sebagai seorang suami telah menunaikan kewajiban2 dengan baik sebagai seorang suami dan apakah anda tidak pernah berfikir apakah sikap anda yg demikian itu tidak menyakiti hati istri anda?????

  3. yah,,jagan gitu donk..!!!!!………..apa lagy ke istri sendiri,,
    dari pada kmu cari istri lain, blom tentu kmu dapat pengganti yg lebih baik dri istri,,,muuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
    ingat itu hanya cobaan dan godaan bwt kmu sebagai suami,,………
    istriku,,ladang surgakuuuu

  4. Banyak bersyukur maka Allah akan menambah nikmatmu tetapi jika kamu mengingkarinya maka Allah akan menurunkan azabNya. syukurilah engkau mendapatkan istri yg rela disakiti, syukurilah anda mendapatkan istri yang mau nemerima apa adanya. Syukurilah bahwa anda masih memberikan kesempatan kepadamu untuk menyadari kekhilapanmu yg artinya masih terbuka pintu hidayah di hatimu

  5. jangan melihat kekurangannya, pikirkan kelebihan yang dia miliki yang sudah ia persembahkan untukmu… Pengorbanannya atas waktu,hoby maupun angan yang tlah rela ia padamkan demi menjaga buah hatimu (anak) yang nanti akan menjadi lentera dalam tidur panjangmu… Dulu kau bisa mencintainya hingga kau memilihnya maka dengan bismillah, kemauan dan niat kuatmu.. KAMU BISA MENYINARI HATIMU LAGI DENGAN MENCINTAINYA… wanita-wanita yg lebih cantik dan lembut diluar sana belum tentu mau berkorban seperti halnya istrimu.. semoga Allah membantumu..amiin

  6. Istigfar sebanyak2x karna saat ini anda pasti keliru,yang membenci istri anda,yg tlah memberikan anda keturunan.
    atau mungkin anda punya keinginan intuk mencari penganti istri anda sehingga timbul kejengkelan dan kemarahan yang maha dasyat.atau mungkin saat ini anda lagi membandingkan istri anda dengan wanita yang diluar sana yang jauh lebih cantik dari istri anda tapi belum tentu mereka bisa mencintai anda dengan tulus.semoga anda cepat terbangundari mimpi…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s