1 - Selamat Datang, Badai Kehidupan!
28 Januari 2008 at 9:37 | In 1 - Menyambut Badai di Masa Sulit | 1 CommentSejak tahun 1997 hingga kini (2008), kehidupan di Indonesia cenderung menyesakkan dada. Nilai rupiah merosot drastis, harga-harga membubung tinggi. Daya beli masyarakat pun kian lama kian menurun. Satu per satu usaha di berbagai sektor berguguran. Ini sebabnya, pengangguran merajalela hingga mencapai angka puluhan juta orang.
Angka sebesar itu menggambarkan betapa lesunya keadaan perekonomian nasional. Sungguh ‘gelombang dahsyat setinggi gunung’ yang dapat ‘menenggelamkan’ kita.
Bagaimana tidak? Kita semua merasakan krisis ekonomi yang parah dan berkepanjangan. Dari petani sampai pedagang. Dari buruh sampai pengusaha. Pria mengalami, wanita tak terkecuali. Kaum tua yang tadinya stabil keuangannya pun kini mulai kedodoran, lebih-lebih kaum muda yang belum mapan. Pejabat yang kaya-raya merasakan kelesuan, apalagi rakyat yang terjerat di bawah garis kemiskinan.
2 - Pedihnya Terhempas Badai di Masa Sulit
25 Januari 2008 at 9:36 | In 1 - Menyambut Badai di Masa Sulit | 2 CommentsHidup memang sulit. Sebab, “manusia diciptakan [dengan kodrat] lemah” (QS an-Nisa’ [4]: 28). Bukan hanya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dan krisis keuangan yang bisa menghempaskan kita dari puncak gunung ke dasar lembah. Saat hubungan cinta terputus, seperti Majnun yang ditinggal mati kekasihnya, ini pun menyulitkan. Bila terkurung di dalam kota yang sedang dikepung pasukan musuh, seperti kaum muslimin di Madinah pada tahun 5 Hijriyah, itu pun sulit sekali.
Dapatkah Anda merasakan sesulit apakah kaum muslimin ketika itu? Bayangkan! Mereka terkurung oleh pengepungan pasukan sekutu (Quraisy dan beberapa kabilah lain) sejumlah empat kali lipat lebih banyak daripada mereka. Sampai dua minggu, belum tampak tanda-tanda kapan berakhirnya masa sulit ini.
Padahal, selama masa sulit tersebut, kaum muslimin yang terisolir di dalam kota itu menderita kelaparan dan kedinginan. Dari hari ke hari kian memprihatinkan.
Repotnya lagi, bahaya mengintai di mana-mana. Setiap keluar rumah untuk mencari makanan dan penghangat tubuh atau pun keperluan lain, ribuan anak panah siap menghujani mereka. Hujan panah datang dari segala penjuru: atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang. Penglihatan mereka sampai kacau-balau. Hati mereka pun “menyesak sampai ke tenggorokan”, sampai-sampai “menyangka yang bukan-bukan tentang Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 10)
Continue reading 2 - Pedihnya Terhempas Badai di Masa Sulit…
3 - Selamat Tinggal, Angan-Angan Hampa!
23 Januari 2008 at 9:34 | In 1 - Menyambut Badai di Masa Sulit | No CommentsKetika kita masih mendengkur sejak bedug magrib bertalu-talu hingga kokok ayam bersahut-sahutan, bulan tidak tidur. Dia terus menari berputar mengelilingi bumi… Ketika kita masih berselimut rapat dari ujung rambut ke ujung kaki, bumi tidak berbaring di atas ranjang. Dia terus berlari memutari matahari… Itu di luar sana.
Di dalam sini, jantung orang tidur yang berdegup lemah masih memompakan darah. Mengalir segar berirama ke seluruh tubuh. Dari pembuluh ke pembuluh. Lalu kembali ke bilik pemompa. Terus mengalir berirama… Di dalam sini, sementara sekujur tubuh terus mendengkur, otot-otot di balik kulit tak kuat tidur. Kewalahan mengiringi irama aliran darah. Maka gerombolan otot pun mengeluhlah, “Hai Otak! Kami capek, nih. Pegel-pegel. Suruh, dong, si tubuh bangkit.”
4 - Terima Kegagalan sebagai Peluang Belajar
21 Januari 2008 at 9:32 | In 2 - Pulihkan Jiwa Yang Terluka | 1 CommentOrang yang mengakui kegagalannya lebih mudah bangkit menuju keberhasilan baru. Bandingkan dengan orang yang mengakui kebodohannya. Ia pun cenderung bersedia menerima pengetahuan baru, sehingga menjadi lebih pintar. Persis seperti orang yang mengakui kekurangan dirinya, sehingga berusaha menyempurnakan diri.
Sebaliknya, orang yang mengira dirinya ‘sempurna’ (selalu berada dalam keadaan baik-baik saja) cenderung menyangkal kegagalan. Katanya: “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda… Aku tidak menganggap putusnya hubungan cinta sebagai kegagalan… Putus hubungan cinta itu soal kecil…”
Namun, you know, tidak semua harapan bisa kita capai. Sebab itu, lebih baik kita mengakui kegagalan yang telah lalu, di samping mengakui masih terbukanya peluang kesuksesan lain di masa depan.
Continue reading 4 - Terima Kegagalan sebagai Peluang Belajar…
5 - Akui Terlukanya Perasaan Kehilangan
18 Januari 2008 at 9:30 | In 2 - Pulihkan Jiwa Yang Terluka | No CommentsApa sajakah yang Anda rasakan ketika kehilangan sesuatu yang Anda anggap berharga, entah itu pekerjaan entah orang yang Anda kasihi? Mungkin, yang Anda rasakan lebih dari sekedar kehilangan atas pekerjaan atau orang yang Anda kasihi itu. Boleh jadi, Anda pun kehilangan rasa percaya-diri, jaminan tidak kesepian, jaminan finansial, impian masa depan, dan masih banyak lagi.
Menumpuknya rasa kehilangan tersebut tentu berdampak besar. Bagai terlanda gempa, badai, dan banjir dalam waktu bersamaan. Satu bencana saja sudah menyulitkan, apalagi beberapa musibah sekaligus. Wajarlah apabila jiwa Anda terguncang.
6 - Lepaskan Emosi Negatif Secara Positif
16 Januari 2008 at 9:28 | In 2 - Pulihkan Jiwa Yang Terluka | No CommentsApa yang kita lakukan ketika merasakan kekecewaan yang mendalam? Marilah kita introspeksi, memeriksa diri sendiri.
Membenturkan kepala ke dinding? Kasihan dindingnya. Hehehe…
Mengobrak-abrik segala barang? Membanting piring, gelas, atau barang pecah-belah lainnya? Kasihan ruangannya, barangnya, lantainya… Hehehe juga.
Menganiaya makhluk lain yang tak berdaya? Aduuuh… Apakah kita mau demo unjuk kekuatan?
Bila mau unjuk kekuatan, tunjukkan kemampuan menaklukkan hawa-nafsu! Ini baru betul-betul perkasa.
Kalau cuma mengalahkan dinding, barang pecah-belah, dan makhluk lain yang tak berdaya, itu sih keciiil. Anak kecil pun mampu melakukannya.
7 - Tenangkan Gejolak Jiwa Secara Sehat
14 Januari 2008 at 9:26 | In 2 - Pulihkan Jiwa Yang Terluka | No CommentsSebagian orang, kendati religius, ternyata kurang mampu menenangkan gejolak jiwa kita. Mereka malah merasa terganggu bila kita ungkapkan emosi negatif yang kita rasakan. Telinga mereka tertutup rapat-rapat. Mereka justru membuka mulut lebar-lebar dengan menggurui bagaimana seharusnya perasaan kita, apa yang harus kita perbuat, dan bagaimana melakukannya. Mereka mengabaikan terlukanya perasaan kita.
Kalau kita curhat kepada para pengabai perasaan itu, bisa-bisa jiwa kita yang sedang terluka malah menjadi semakin lemah. Ibaratnya, otot kaki telah terkilir dan belum terobati kok malah disuruh berlari terus mendaki gunung dan dilarang berhenti sebelum sampai di puncak. Makin parah, bukan?
Supaya luka hati kita menjadi sembuh dan tidak makin parah, lebih baik kita curhat kepada para pemerhati perasaan. Mereka ialah orang-orang yang memperhatikan perasaan kita, memaklumi luka hati, membuka telinga lebar-lebar guna mendengar keluh-kesah kita, menyayangi kita, menerima kita apa adanya, dan tidak menghakimi kita.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.